Mengenal Subak Tradisi Bali Di Bidang Pertanian Sarat Filosofi


Tradisi Bali di bidang pertanian – Bali dikenal sebagai salah satu surga dunia yang dicintai oleh masyarakat lokal hingga mancanegara. 

Bali sangat terkenal dengan keindahan alam dan budayanya. Selain keindahan pantai, ragam budaya, kekayaan alam dan keramahan penduduknya, banyak yang mengagumi Bali karena pesawahannya. 

Baca Juga: Daftar Lagu Bali Tradisional Beserta Dengan Maknanya!

Banyak sekali wisatawan lokal hingga mancanegara yang mengagumi persawahan hijau berundak-undak khas yang mempesona yang kita kenal dengan sebutan sawah terasering. 

Untuk sebagian wisatawan, rasanya akan tidak lengkap jika ke Bali tanpa menyaksikan keindahan pesawahannya. 

Keindahan persawahan yang kita nikmati ketika berada di Bali ini tentu saja berkat masyarakat Bali khususnya petani yang menerapkan sistem subak. 

Mengenal Tentang Subak, Tradisi Bali Di Bidang Pertanian Yang Menjadi Manifestasi Tri Hita Karana  

Mengenal Tentang Subak, Tradisi Bali Di Bidang Pertanian Yang Menjadi Manifestasi Tri Hita Karana 

Subak merupakan sistem irigasi tradisional yang dikelola oleh sebuah organisasi yang terdiri dari para petani dari setiap wilayah di Bali. 

Sistem irigasi ini merupakan wujud gotong royong dan warisan dari nenek moyang secara turun temurun yang ada di Pulau Bali. 

Baca Juga: Alat Musik Tradisional Bali Dan Cara Memainkannya! 

Sistem subak ini merupakan pola pengelolaan pengairan untuk sawah-sawah yang sudah berlangsung sejak lama.

Pengelolaan irigasi dengan menggunakan sistem subak umumnya menggunakan bentang lahan dengan memanfaatkan aliran air alami. 

Nah, sumber air yang digunakan juga biasanya didapatkan dari mata air yang ada disekitar sawah atau memanfaatkan aliran sungai yang muncul karena adanya aliran gunung vulkanik. 

Dalam penerapannya, sistem ini juga sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat tanpa adanya campur tangan pemerintah. 

Subak juga bukan hanya sebagai sistem irigasi saja melainkan termasuk kekayaan budaya Bali. Sistem subak ini menggunakan filosofi Trihita Karana. 

Filosofi ini sendiri menjadi prinsip penting yang dipegang oleh masyarakat Bali. Prinsip Trihita Karana merupakan salah satu cara yang digunakan masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan selalu berpegangan pada filosofi ini, masyarakat Bali diharapkan bisa menjaga keharmonisan antar sesama manusia, manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam. 

Baca Juga: Tradisi Bali Ngaben Ritual Pembakaran Mayat

Lalu, apa hubungan antara sistem subak dengan filosofi Trihita Karana? 

Pada dasarnya sebuah lahan sawah tidak bisa berdiri sendiri. Semua pesawahan yang ada di satu wilayah berada dalam satu kesatuan.

 Jadi, ketika salah satu area sawah mengalami disrupsi/gangguan, maka keberadaan sawah lain akan terganggu. 

Manfaat Sistem Subak Bagi Masyarakat Bali 

Keberadaan sistem subak ini tentu saja memberikan banyak sekali manfaat bagi masyarakat Bali khususnya di bidang sosial, lingkungan dan ekonomi. 

Di bidang sosial, sistem ini bisa meningkatkan kesejahteraan para petani melalui sistem irigasi yang berasaskan gotong royong dan keadilan. 

Dengan sistem ini, para petani akan mendapatkan pengairan untuk sawahnya walaupun dalam keadaan krisis air. 

Baca Juga: Mengenal Tradisi Bali Calonarang: Asal Usul Leak Di Bali

Sistem subak juga memberikan manfaat untuk lingkungan. Sistem irigasi subak yang dikelola dengan baik bisa menjadi pengendali pencemaran air. 

Sedangkan dari segi ekonomi, sistem subak bisa membantu para petani dalam bercocok tanam secara berkelanjutan. Alhasil, para petani akan mendapatkan penghasilan. 

Sistem subak juga menjadi sebuah objek wisata para wisatawan sehingga bisa meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Dalam cakupan organisasi, adanya sistem subak ini juga bisa membantu mensejahterakan Koperasi Unit Desa yang ada. 

Sistem irigasi subak diatur oleh pemuka adat yang disebut sebagai pekaseh yang biasanya berprofesi sebagai petani. 

Keunikan dari sistem irigasi ini bisa dilihat dari kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh anggota subak secara rutin sesuai dengan tahapan mulai dari pertumbuhan padi, mengolah tanah hingga hasil panen yang disimpan di lumbung. 

Itulah sekilas tentang tradisi Bali di Bidang Pertanian yang dikenal dengan sebutan “Subak”. 

Baca Juga: Kalender Bali Lengkap Dari Tahun Ke Tahun

Subak memang tidak hanya memperhatikan sistem irigasinya saja, melainkan juga memperlihatkan tentang asas gotong royong serta keadilan yang diharapkan bisa mencerminkan kehidupan masyarakat Bali. 

Mudah-mudahan informasi tradisi bali dibidang pertanian diatas dapat menjadi referensi serta dapat menambah wawasan kita semua. Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar