Mengenal Pawukon Dalam Mencari Hari Baik dan Nasib Sial

Mengenal Pawukon Dalam Mencari Hari Baik dan Nasib Sial

Pawukon Dalam Tradisi Jawa Untuk Mengetahui Ramalan Seseorang

Sejak zaman dahulu hingga sekarang masyarakat Jawa dan sekitarnya masih percaya jika kehidupan seseorang bisa diketahui melalui weton yang dihitung lewat kalender Jawa.

Sayangnya untuk mendapatkan hasil yang akurat, perhitungan weton saja tidak cukup. Melainkan dibutuhkan juga pawukon (wuku) atau horoskop Jawa.

Sebab sekalipun memiliki weton yang sama, apabila wuku yang dimilikinya berbeda, maka sifat dan ramalan orang tersebut pun akan berbeda.

A. Pengertian Pawukon

Lalu apa itu pawukon? Pawukon sendiri adalah suatu perhitungan tradisional yang populer di masyarakat agraris khususnya wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Pawukon juga dikenal sebagai petung atau perhitungan untuk menentukan usaha manusia agar usahanya berhasil dengan baik.

Pawukon sendiri digunakan dalam banyak hal seperti untuk menentukan waktu menanam padi yang baik atau yang lebih dikenal dengan Pranata Mangsa.

Bisa juga dipakai untuk merumuskan waktu yang tepat ketika ingin membangun rumah, bepergian, atau bahkan untuk mengetahui watak seseorang yang terkait dengan astrologi.

Hingga saat ini, weton Jawa dan pawukon masih dipercaya sebagian besar masyarakat Jawa untuk mengetahui karakter dasar seseorang.

Sehingga ada watak yang didapatkan dari weton dan ada pula watak yang berdasarkan pawukon atau horoskop Jawa.

Hampir mirip seperti zodiak dalam perbintangan yang kita kenal ada 12, maka pawukon atau wuku ini memiliki jumlah yang lebih banyak yakni 30.

Siklus wuku sendiri terdiri dari tujuh harian yang diawali oleh Ahad (minggu) dan diakhiri Sabtu.

Berlanjut seperti demikian hingga seseorang akan kembali pada wukunya lagi setelah 210 hari yakni 30 x 7 hari = 210 hari.

Selain itu, masing-masing wuku juga memiliki nama yang berbeda dengan wuku pertama yang disebut wuku Sinta dan wuku ke-30 bernama wuku Watugunung.

B. Unsur Dalam Wuku

Umumnya setiap wuku memiliki berbagai unsur yang berupa simbol seperti dewa, pohon, burung, gedhong (tipe rumah), umbul-umbul, dan senjata.

Ada pula simbol yang melambangkan keberuntungan maupun kesialan seseorang. Itulah mengapa terdapat cara untuk menetralisir sifat negatif atau kesialan apabila wuku kurang baik.

Netralisir sendiri dilakukan dengan melaksanakan selamatan sarana dan prasarananya tergantung pada wuku masing-masing. Tujuannya adalah untuk memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari kesialan dan diberi keselamatan.

B. Sifat Pawukon

1. Lebih komplit dan akurat

Seperti yang kita tahu, pawukon adalah ilmu tentang wuku yang bersifat baku berdasarkan buku babon yang ada.

Sama halnya seperti metode hitungan astrologi pada umumnya, wuku membagi hari kelahiran seseorang berdasarkan tanggal dan tahun kelahirannya.

Hanya saja Pawukon mendasarkan perhitungannya menurut kalender Jawa. Wuku sendiri dalam bahasa Jawa kuno artinya sepekan atau seminggu.

Berarti satu wuku terdiri dari tujuh hari. Karya Pawukon juga bisa disejajarkan dengan zodiak Barat maupun Cina yang sudah dikenal luas.

Jika satu periode shio diawali dengan tahun pertama yakni Tahun Tikus yang kemudian diakhiri oleh Tahun Babi pada tahun kedua belas.

Lalu horoskop barat yang terbagi menjadi 12 bintang yang mana pergantiannya terjadi setiap bulan, dimana siklusnya diawali dengan Capricorn dan diakhiri oleh Sagitarius.

Lain halnya dengan Pawukon yang terbagi menjadi 30 macam wuku yang penggantiannya terjadi setiap minggu. Perhitungannya pun dimulai dari hari Minggu sampai hari Sabtu.

Satu periode Pawukon diawali pada minggu pertama setiap tahun dengan Wuku Sinta, yang kemudian diakhiri pada minggu ketiga puluh dengan Wuku Watugunung.

Adapun urutan dari ke-30 wuku tersebut adalah:

  1. Shinta,
  2. Landep,
  3. Wukir,
  4. Kurantil,
  5. Tala,
  6. Gumbreg,
  7. Warigalit,
  8. Warigagung,
  9. Julungwangi,
  10. Sungsang,
  11. Galungan,
  12. Kuningan,
  13. Langkir,
  14. Mandhasiya,
  15. Julungpujut,
  16. Pahang,
  17. Kuruwelut,
  18. Marakeh,
  19. Tambir,
  20. Medangkungan,
  21. Maktal,
  22. Wuye,
  23. Manahil,
  24. Prangbakat,
  25. Bala,
  26. Wugu,
  27. Wayang,
  28. Kulawu,
  29. Dukut, dan
  30. Watugunung.

Dibandingkan dengan horoskop versi lain, Pawukon memiliki kelebihannya sendiri.

Sebab selain memberi gambaran mengenai kondisi fisik, karakter, serta watak seseorang, setiap wuku juga mampu meramalkan jenis naas (kesialan) atau pantangan yang harus dihindari seseorang di masa yang akan datang.

Contohnya saja jika kamu memiliki Wuku Kurantil maka pantangannya adalah penekan atau kegiatan yang sifatnya panjat-memanjat.

Sedangkan mereka yang ber wuku Gumbreg nasib sialnya bisa diperkirakan karena air, Ke Babag ing Banyu.

Masa berlaku dari pantangan ini pun hanya seminggu atau sesuai usia wuku. Artinya, selama waktu itu orang yang bersangkutan sebaiknya menghindari hal-hal yang menjadi pantangannya.

2. Nyaris Hilang, Padahal Universal

Diakui atau tidak, pengetahuan tentang Pawukon serta primbon Jawa ini sebenarnya nyaris saja punah tergerus oleh derasnya trend budaya luar di kalangan masyarakat Jawa.

Selain itu nilai modernitas yang terlanjur diserap oleh kalangan anak muda seringnya membuat mereka lupa akan tradisi para leluhur. Terlebih dengan pemikiran bahwa semua hal yang berbau tradisional dianggap ndeso dan kuno.

Padahal masyarakat Jawa yang pada dasarnya berakar pada budaya agraris-mistis, termasuk mereka yang hidup di kota-kota besar pada akhirnya akan berpaling dan mengikuti naluri tradisionalnya.

Hal ini terbukti dari banyaknya orang yang masih meyakini primbon sebagai perhitungan Jawa untuk menentukan tanggal perkawinan, kepindahan rumah, kegiatan bisnis, atau bahkan dalam memilih nama bayi.

3. Tidak Diketahui Penciptanya

Sama halnya seperti Cap Ji Shio maupun zodiak Barat yang tidak diketahui penciptanya, Pawukon juga hingga saat ini belum diketahui asal-usul pastinya. Hal ini diperparah dengan sumber-sumber informasi yang keadaannya sudah sangat memprihatinkan.

Seperti contohnya buku tentang Pawukon terbitan tahun 1850 yang tersimpan di Istana Mangkunegaran, buku tersebut kini sudah sangat rapuh dan tua.

Buku serupa juga ada di Sasono Pustoko, Keraton Kasunanan Surakarta, yang dibuat pada masa Paku Buwono X (1893-1939), untungnya kondisi buku ini sedikit lebih baik.

Mitos mengenai asal-usul Pawukon sendiri diilhami dari kisah Raja Watugunung, cerita rakyat zaman dulu, yang mana mengisahkan tentang cinta anak lelaki terhadap ibunya sendiri seperti Oedipus dari Yunani.

Nama anak-anak yang lahir dari hubungan terlarang inilah yang kemudian dijadikan sebagai nama wuku.

Ada pun urutan wuku itu disesuaikan dengan janji Dewa kepada Watugunung untuk mengangkat semua anggota keluarganya ke kahyangan.

Guna memastikan jika semua anggota keluarganya akan diangkat ke kahyangan, Watugunung memilih menunggu seluruh anggota keluarganya dulu diangkat satu per satu ke kahyangan, baru kemudian dirinya yang naik paling akhir.

Itulah mengapa Wuku Watugunung berada di urutan terakhir.

Penggunaan Pawukon dalam praktik bernegara dan kehidupan sehari-hari pun diperkirakan sudah dimulai pada zaman Sultan Agung (1613-1645).

Itulah informasi mengenai pawukon dalam tradisi Jawa untuk mengetahui ramalan seseorang.

Sayangnya kembali lagi pada hakikat ramalan yang bisa jadi benar atau salah, pawukon pun tidak sepenuhnya akurat dalam meramalkan maupun memprediksi karakter seseorang.

Semua kembali lagi pada kita yang menjalani kehidupan ini. Jadi bijak-bijaklah dalam mempercayai sesuatu.

Mudah-mudahan Informasi Pawukon Dalam Mencari Hari Baik dan Nasib Sial diatas dapat menjadi referensi untuk kita semua. Semoga bermanfaat!

aplikasi crypto terbaik
gudang meme enkosa

Akurat dan terpercaya. Suka berbagi informasi bermanfaat seperti kalender, sejarah, dan adat-istiadat. Lebih dekat dengan saya cek IG @endikekos atau bisa cek disini

   
   
Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional Hari Kerjasama Selatan-Selatan Hari Trikora Hari Bela Negara Hari Juang Kartika TNI-AD Hari Nusantara Hari Transmigrasi Hari Gunung Internasional Hari Migran Internasional Hari Hak Asasi Manusia