Dasar Perhitungan Kalender Jawa

Dasar Perhitungan Kalender Jawa

Dasar Perhitungan Kalender Jawa

Sebuah sistem perhitungan penanggalan yang awal mulanya digunakan oleh Kesultanan kerajaan di Nusantara seperti kerajaan Majapahit, kerajaan Demak, Kesultanan Raja Mataram dan lain sebagainya.

Perhitungan Penanggalan Kalender Jawa

Kalender Jawa diciptakan oleh Mpu Hubayun pada tahun 911 SM. Dan mulai dipakai pada kisaran tahun 1633 M oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja besar yang berkedudukan di kerajaan Mataram Islam.

Kalender Jawa dibuat dengan menerapkan Sangkan Paraning Bawana atau asal usul terjadinya alam semesta beserta isinya.

Lihat Juga: Kalender Jawa Bulan September 2022 Lengkap

Kalender Jawa menerapkan sistem perpaduan antara agama Islam, Hindu-Buddha dengan sistem penanggalan Hijriah dan juga Masehi.

Dasar perhitungan kalender jawa mempunyai dua siklus yaitu siklus mingguan yang biasa dikenal masyarakat dengan hari Senin sampai dengan hari Ahad (Minggu) dan siklus pekan pancawara (pasaran).

Siklus pekan Pancawara terdiri dari lima pasaran diantaranya Pahing, Kliwon, Legi, Pon dan Wage.

Masyarakat Jawa biasa menggunakan siklus pekan Pancawara sebagai penentu hari baik ketika ingin mengadakan suatu hajat formal maupun hajat informal. Bahkan setiap bayi yang lahir di dunia memiliki siklus pekan Pancawara.

Siklus Hari dalam Penanggalan Jawa

Dalam suku dan budaya tanah Jawa, siklus hari cukup beragam. Pada zaman dahulu masyarakat tanah Jawa kuno mengenal ada 10 jenis minggu.

Dimulai dari seminggu yang jumlahnya hanya terdapat satu hari hingga seminggu yang jumlah harinya mencapai 10 hari.

Nama-nama minggu tersebut secara berurutan adalah

  1. Ekawara
  2. Dwiwara
  3. Triwara
  4. Catur Wara
  5. Pancawara
  6. Sadwara
  7. Saptawara
  8. Hastawara
  9. Nawawara
  10. Dasawara

Selain nama-nama minggu yang cukup terkenal di tanah Jawa ada pula pekan yang terdiri dari lima hari yang biasa dikenal masyarakat Jawa dengan sebutan Pasaran (patrap).

Hari pasaran tersebut mencakup:

  1. Kliwon (Asih), dalam pasaran kliwon mencerminkan sikap berdiri atau jumeneng.
  2. Pon (Petak), dalam pasaran pon mencerminkan sikap tertidur atau dalam Bahasa Jawa disebut sare.
  3. Wage (Cemeng), dalam pasaran wage mencerminkan sikap sedang duduk atau dalam terjemahan Bahasa Jawa disebut lenggah.
  4. Pahing (Pahit), pasaran pahing mencerminkan sikap sedang menghadap atau dalam Bahasa Jawa disebut madep.
  5. Legi (Manis), pasaran legi melambangkan sikap mungkur atau dalam Bahasa Indonesia disebut berbalik menuju arah belakang.
Baca juga:  Istilah-Istilah Dalam Kalender Jawa Yang Belum Banyak Orang Tahu

Setelah pembahasan macam-macam minggu dan pasaran, setiap pekan biasa disebut dengan satu wuku dan setelah 30 wuku akan memunculkan sebuah siklus perhitungan penanggalan Jawa baru.

Penjelasan Wuku Dan Neptu

Berkaitan dengan penanggalan Jawa, ada pula periode waktu yang dianggap masyarakat tanah Jawa keberadaannya menentukan kepribadian hingga watak seorang bayi yang telah dilahirkan.

Bisa dikatakan hal ini merupakan Ilmu Astrologi bagi Masyarakat Jawa. Ilmu Astrologi Jawa ini disebut Wuku dan perhitungannya disebut Pakuwon.

Lihat Juga: Dasar Perhitungan Kalender Hijriyah Lengkap

Dalam penyebarannya wuku berjumlah 30 dengan masing-masing wuku berjumlah 7 hari, sehingga apabila dijumlahkan siklus dapur wuku berjumlah 210 hari.

Bila ada wuku maka tak afdol bila tak ada neptu yang mengiringinya, neptu terbagi menjadi dua jenis yaitu neptu dina dan neptu pasaran.

Neptu dina digunakan sebagai penanda berbagai hari saptawara, dan neptu pasaran digunakan sebagai penanda hari pancawara.

Sejarah Nama Bulan Kalender Jawa

Bulan yang terdapat pada kalender Jawa berjumlah 12 bulan layaknya Kalender Hijriah dan Masehi.

Setiap nama bulan yang diambil memiliki makna dan usia hari tersendiri.

1. Sura

Bulan Sura atau Suro menjadi penanda bulan pertama yang ada dalam kalender Jawa, dalam kalender Hijriah bulan Suro ini bertepatan dengan bulan Muharram.

Kalimat Sura diambil dari sebuah acara perayaan 10 Muharram di kalender Islam yaitu Asyura, jumlah hari pada bulan Sura sebanyak 30 hari.

2. Sapar

Nama Sapar diambil dari kalimat Safar pada penanggalan kalender Hijriah.

Seperti hal nya kalender Hijriah, bulan Safar menduduki urutan kedua dalam penanggalan kalender Jawa. Jumlah hari pada bulan Sapar sebanyak 29 hari saja.

Baca juga:  Menghitung Weton Jodoh Berdasarkan Kalender Jawa

3. Mulud

Bulan selanjutnya yang menduduki urutan ketiga adalah Mulud.

Kata Mulud diambil dari Bahasa Arab atas peristiwa kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW tanggal 12 bulan Rabi’ al-awwal.

Lihat Juga: Dasar Perhitungan Kalender Masehi Lengkap

Jumlah usia bulan Mulud sebanyak 30 hari.

4. Bakda Mulud

Bulan dengan jumlah hari sebanyak 29 hari yang menduduki urutan keempat dalam kalender Jawa.

Makna ba’da diambil dari Bahasa Arab yang artinya setelah. Persisnya Bakda Mulud terjadi setelah bulan Mulud.

5. Jumadil Awwal

Jumadil Awwal merupakan nama yang diambil dan disesuaikan dengan Jumadil al-awwal yang terdapat dalam kalender Hijriah.

Jumlah hari dalam bulan Jumadil Awal sebanyak 30 hari.

6. Jumadil Akhir

Selanjutnya bulan ke enam dari kalender Jawa, Jumadil Akhir diambil dan diselaraskan dari nama bulan sebelumnya yaitu Jumadil Awwal.

Jumlah hari dalam bulan Jumadil Akhir sebanyak 29 hari

7. Rejeb/Rajab

Dalam bulan Rajab masyarakat Jawa beranggapan bahwa menunaikan hajat adalah hal yang terbaik seperti mengadakan acara pernikahan.

Pasalnya masyarakat Jawa percaya bahwa Rejeb merupakan bulan yang sangat mulia diantara bulan yang lainnya.

Sehingga ketika mengadakan sebuah acara besar akan menimbulkan banyak kebahagiaan dan terhindar dari segala malapetaka.

Adapun masyarakat Jawa yang melakukan puasa pada bulan Rajab sebagai bentuk syukur dan penghormatan atas kemuliaan bulan Rajab.

Puasa pada bulan Rajab juga dianjurkan untuk dilakukan karena memiliki pahala yang cukup besar. Jumlah hari pada bulan Rajab sebanyak 30 hari.

8. Ruwah

Kata Ruwah sering dikaitkan dengan arti arwah atau ruh, masyarakat Jawa percaya bahwa pada bulan Ruwah ini segala perbuatan baik maupun buruk dari setiap ruh selama satu periode dicatat.

Jumlah harinya sebanyak 29 hari.

9. Pasa/Poso

Urutan nama bulan kesembilan pada kalender Jawa diambil dari kata Puasa, karena pada bulan ini umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, dan Bahasa Jawa dari puasa adalah Pasa atau Poso.

Baca juga:  Perbedaan Kalender Masehi dan Hijriah

Lihat Juga: Kalender Bali Bulan November 2022 Lengkap

Jumlah hari untuk berpuasa Ramadhan di bulan ini sebanyak 30 hari.

10. Syawal

Seperti hal nya bulan Jumadil Awwal dan Jumadil Akhir, nama Syawal juga disandarkan pada kalender Hijriah Syawal.

Pada bulan Syawal ini dikenal sebagai bulan kemenangan karena pada bulan ini umat Islam merayakan hari Raya Idul Fitri setelah berpuasa satu bulan lamanya di bulan Ramadhan atau Pasa.

Jumlah hari pada bulan Syawal sebanyak 29 hari.

11. Sela

Nama bulan Sela bertepatan pada bulan Dzulqa’dah yang jumlah harinya sebanyak 30 hari.

Kata Sela diambil dari Bahasa Sansekerta yang bermakna di sela-sela atau apit.

12. Besar

Bulan Besar menjadi bulan penutup dalam kalender Jawa. Dan pada bulan ini terjadi hari raya Idul Adha serta Ibadah Haji yang dilakukan umat Islam karena bertepatan pada bulan Dzulhijjah sehingga disebut “Besar”.

Jumlah hari pada bulan ini sebanyak 30 hari. Dengan begitu total hari dalam satu tahun kalender Jawa sebanyak 354 atau 355 hari.

Itulah beberapa uraian mengenai dasar perhitungan kalender Jawa yang sampai sekarang masih digunakan.

Mudah-mudahan informasi Dasar Perhitungan Kalender Jawa diatas dapat menjadi referensi serta menambah wawasan kita semua.

Semoga bermanfaat!

Pencarian yang paling banyak dicari

  • perhitungan kalender jawa jodoh
  • cara menghitung kalender jawa
  • kalender jawa online
  • hitung kalender jawa hari ini
  • perhitungan kalender jawa orang meninggal
  • kalender jawa online 2022
  • menghitung jodoh dengan kalender jawa
  • mencari hari baik menikah dengan kalender jawa

Akurat dan terpercaya. Suka berbagi informasi bermanfaat seperti kalender, sejarah, dan adat-istiadat. Lebih dekat dengan saya cek IG @endikekos atau bisa cek disini

Tinggalkan komentar