Dasar Perhitungan Kalender Hijriah


Dasar Perhitungan Kalender Hijriah

Perhitungan Kalender Hijriyah

Kalender Hijriah disebut juga kalender Qamariyah, disebut Qamariyah karena penanggalan yang diambil disandarkan pada perhitungan peredaran bulan (Qamar).

Kalender Hijriah sangat penting bagi umat Islam, karena ibadah dan hari penting Islam ditentukan oleh kalender Hijriah.

Sistem Perhitungan Kalender Hijriah

Umat Islam telah diberi pemahaman mengenai perhitungan Kalender Hijriah melalui firman Allah yang tercantum dalam kitab suci Al-Qur’an tepatnya pada surah Al-Baqarah ayat 189.

Sistem penanggalan atau perhitungan kalender Hijriah didasarkan pada siklus peredaran hilal atau bulan dalam jangka waktu mengelilingi bumi.

Baca Juga: Kalender Hijriyah Bulan Desember 2023 dan Jadwal Puasanya

Siklus peredaran bulan mengelilingi matahari disebut siklus sinodis. Dalam siklus sinodis bulan membutuhkan waktu selama 354 atau 355 hari untuk kembali ke posisi semula ketika mengelilingi matahari.

Dengan siklus sinodis memberi kesimpulan bahwa jumlah hari dalam kalender Hijriah paling sedikit sebanyak 354 hari dan paling banyak 355 hari.

Dalam perhitungannya, diadakan pembulatan sehingga dalam kalender Hijriah usia setiap bulan diterapkan selang-seling antara 29 dan 30 hari kecuali di bulan Dzulhijjah, karena setiap 4 tahun sekali (kabisat) bulan Dzulhijjah berusia 30 hari.

Prinsip Universal Kalender Hijriah

Dalam jejaring Internasional, tak semua masyarakat dunia menganut agama Islam, menyebabkan ada beberapa masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana perhitungan Kalender Hijriah menurut Islam.

Sehingga diperlukan kesepakatan terkait perhitungan secara internasionalisasi mengenai garis batas tanggal dan otoritas penguasa suatu negara yang menetapkan agar kalender Hijriah dapat diterapkan secara menyeluruh di seluruh dunia.

Setidaknya ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi ketika memberlakukan kalender Hijriah secara Internasional, prinsip-prinsip tersebut ialah:

Prinsip Astronomis

1. Jumlah hari dalam satu bulan kalender Hijriah kisaran 29 hari atau 30 hari saja. Hal ini disandarkan dari ketentuan Rasulullah SAW.

Karena pada zaman Rasulullah umat sedikit kesulitan menentukan kapan saja bulan yang berusia 29 hari dan 30 hari.

2. Rukyat Hilal sebagai penentu memasuki awal bulan. Pada dasarnya hilal dapat terbentuk dan terlihat apabila telah memasuki fase konjungsinya.

Dalam hal ini juga disandarkan kepada ketentuan Rasulullah SAW. Pada saat zaman Rasulullah Rukyat Hilal diaplikasikan sebagai penentu awal puasa Ramadhan.

3. Terbenamnya Matahari dikaitkan dengan batas pergantian hari, ketika matahari mulai terbenam tandanya hari akan segera berganti.

Fenomena terbenamnya matahari dijadikan bahan acuan masyarakat lokal dalam penyusunan kalender.

Prinsip Historis

Keberadaan kalender Hijriah pada zaman Rasulullah SAW. Sangat berguna terlebih dalam perihal ibadah seperti Puasa Ramadhan, ibadah Haji, maupun ibadah Qurban. Keberadaan kalender Hijriah saat ini diterapkan berdasarkan ajaran Rasulullah di masa silam.

Prinsip Matematis

Dengan menerapkan prinsip sistematis kita dapat lebih mudah menghipotesis berbagai fenomena yang akan terjadi di masa yang akan datang serta kita juga dapat menelusuri berbagai fenomena yang telah terjadi di masa lampau.

Lihat juga: Dasar Perhitungan Kalender Masehi

Karena menurut prinsip Matematis, kalender merupakan model pergerakan benda-benda langit yang model pergerakannya ditentukan secara sistematis dalam matematis.

Sejarah Kalender Hijriah

Kalender Hijriah pertama kali diterapkan pada zaman kekhalifahan dan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang ke dua yaitu Umar Bin Khattab tepatnya 17 tahun setelah Rasulullah hijrah.

Secara tidak langsung Umar bin Khattab lah yang menjadi pencetus pertama dalam pembuatan dan penerapan kalender Hijriah.

History di ciptakannya kalender Hijriah ialah karena banyak surat-surat dari para Amirul Mu’minin sampai kepada Umar bin Khattab.

Namun Umar bin Khattab merasa kebingungan untuk menjalankan isi surat dari para Amirul Mu’minin tersebut.

Dikarenakan surat itu hanya tertanggal Sya’ban tanpa disertai keterangan tahun yang lalu ataukah tahun ini.

Kemudian Umar bin Khattab mengumpulkan sahabat lainnya terutama yang bertugas di pusat pemerintahan guna membahas dan memecahkan permasalahan tersebut.

Dalam perkumpulan di suatu majelis Umar bin Khattab menjelaskan bagaimana kegelisahannya dalam memecahkan permasalahan datangnya surat dan dokumen penting lainnya yang tak tercantum tahun.

Ditambah dengan persoalan semakin meluasnya kekuasaan Islam yang memiliki keluhan yang sama dengan Khalifah Umar bin Khattab yaitu permasalahan pada bagian administrasi.

Bahkan setiap daerah memiliki kalender lokal tersendiri yang tentunya antar daerah satu dan daerah lainnya memiliki penanggalan yang berbeda.

Pada zaman tersebut, surat menyurat antar kepala daerah atau pemerintahan tergolong belum sistematis disebabkan perbedaan penanggalan lokal tadi.

Dengan demikian sang Khalifah bersama para sahabat memutuskan untuk melakukan penyeragaman penanggalan.

Awal penyeragaman penanggalan pun memunculkan kebingungan, pasalnya banyak usulan dalam menentukan awal perhitungan kalender islam.

Terdapat masukan yakni awal tahun disesuaikan dengan tahun kelahiran Rasulullah atau saat masa pengangkatan Nabi Muhammad menjadi seorang Rasulullah terakhir .

Kemudian usulan lain, saat turunnya kitab suci Al-Qur’an atau bahkan saat kemenangan kaum muslimin saat menghadapi berbagai peperangan.

Dari berbagai usulan diatas, akhirnya sang Khalifah Umar bin Khattab beserta para sahabat memutuskan bahwa tahun peristiwa Hijrah Rasulullah menjadi tahun pertama.

Tahun tersebut juga dijadikan sebagai tahun penyeragaman dalam kalender Islam yang berlaku di seluruh dunia.

Dengan penetapan penyeragaman penanggalan yang telah dilakukan Khalifah Umar bin Khattab membuat permasalahan di bidang administrasi bisa terpecahkan,dampaknya kegiatan surat menyurat dapat berjalan secara sistematis.

Sejarah arti nama setiap bulan di Kalender Hijriah

Muharram

Kalimat Muharram memiliki makna terlarang. Pada bulan Muharram terdapat sebuah hukum adat yang tidak tertulis dan sudah berlaku sejak lama, hukum tersebut berisikan tentang bangsa Arab melarang untuk mengadakan pertumpahan darah.

Safar

Safar memiliki makna kosong. Pada bulan ini penduduk bangsa Arab mengosongkan rumah mereka dan berpindah ke medan perang untuk melakukan peperangan.

Rabi’ al-awwal

Kalimat Rabi’ memiliki makna musim semi, pada bulan ini terjadi musim semi sehingga dinamakan Rabi’ al-awwal sesuai dengan kondisi cuaca saat itu.

Rabi’ al-Tsani

Nama Rabi’ al-Tsani mengikuti nama bulan Rabi’ al-awwal karena musim gugur masih terjadi. Tsani memiliki arti kedua.

Jumada al-Ula

Sebelum nama Jumada al-Ula disebut dengan Jumada Khamsah. Kalimat Jumada memiliki arti keras atau beku, mengapa bisa dikatakan demikian? Karena pada bulan ini terjadi musim panas yang sangat ekstrim sehingga menyebabkan kekeringan air.

Jumada al-Tsaniyah

Jumada al-Tsaniyah atau disebut juga Jumada al-akhirah. Nama ini diambil dan disesuaikan dari nama bulan sebelumnya.

Rajab

Kalimat Rajab memiliki makna yang mulia, sehingga pada bulan Rajab bangsa Arab mengharamkan pembunuhan jiwa maupun peperangan. Tujuannya adalah untuk memuliakan diri sendiri dan jiwa orang lain dibulan yang penuh mulia.

Sya’ban

Kalimat Sya’ban berasal dari kata Syi’b yang bermakna kelompok. Dinamakan Sya’ban karena orang bangsa Arab mulai Kembali ke kelompok masing-masing guna mempersiapkan peperangan.

Ramadhan

Ramadhan diambil dari kata Ramadh yang artinya membakar atau panas menyengat. Dinamakan demikian karena pada bulan ini matahari jauh lebih panas dan menyengat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Baca Juga: Tanggal Bulan Purnama Desember 2023

Syawal

Kalimat Syawal diambil dari kata Syaala yang bermakna burung An-nauq yang biasanya hamil dibulan Syawal sembari mengangkat sayap dan ekornya.

Dzulqaidah

Diambil dari kata Qa’ada yang bermakna beristirahat dan tidak melakukan aktivitas apapun. Maksudnya warga bangsa Arab sedang beristirahat untuk tidak berperang demi menyambut bulan haji.

Dzulhijah

Nama bulan yang diambil karena banyak umat Islam yang mengadakan ibadah Haji.

Itulah beberapa ulasan mengenai Dasar Perhitungan Kalender Hijriah yang wajib diketahui umat Islam.

Mudah-mudahan dengan informasi dan mengetahui Dasar Perhitungan Kalender Hijriyah dapat menambah ilmu dan wawasan untuk kita semua. Semoga bermanfaat!

Pencarian yang paling banyak dicari

  • perhitungan kalender hijriyah berdasarkan peristiwa
  • perhitungan kalender hijriyah berdasarkan peredaran
  • perhitungan kalender hijriyah didasarkan pada perputaran bulan mengelilingin bumi karena
  • cara perhitungan kalender hijriyah
  • dasar perhitungan kalender hijriyah
  • kalender hijriyah pertama kali ditetapkan pada masa khalifah

Review Google My Bussiness for Enkosa.com

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar