Wanita Bali Bertelanjang Dada, Salah Satu Tradisi Bali Tahun 1950-an


Bali merupakan daerah yang cukup kental dengan adat istiadat. Bahkan salah satu hal yang menarik dari suku tersebut ialah pakaian adatnya. 

Baca Juga: 6 Lagu Tradisional Bali Cocok Untuk Anak-Anak!

Akan tetapi, tahukah Anda? Tradisi Bali Tahun 1950 dalam hal berpakaian tidak sama seperti saat ini. Dimana para wanitanya ketika itu masih belum mengenal apa itu penutup dada. 

Wanita Bali Bertelanjang Dada, Salah Satu Tradisi Bali Tahun 1950-an

Pakaian Wanita Bali Tahun 1950-an

Pada zaman dahulu ketika tahun 1950-an, masyarakat Bali khususnya para wanitanya memang tidak mengerti apa itu penutup dada. 

Ketika itu tradisi yang dipegang oleh masyarakat bali wanita memang tampil tanpa adanya penutup dada. 

Baca Juga: Download Logo Provinsi Bali PNG

Dalam artian para wanita bertelanjang dada sehingga tampaklah payudaranya. Ketika itu orang-orang, baik wanita maupun pria mengenakan penutup badan sederhana. 

Keduanya mengenakan kemben yang mirip dengan rok. Dimana wanita bali tidak menutup bagian atas dadanya. Kemudian bagian rambut juga terlihat klimis karena selalu diolesi oleh minyak kelapa. 

Selain itu, pada sisi rambut dan telinga para wanitanya kerap disematkan kuntum bunga. Pada masa itu, pemandangan seperti ini sangatlah biasa. 

Mengingat tradisi Bali Tahun 1950-an dalam hal berpakaian dan berpenampilan memang seperti apa adanya. Jika hal ini dibawa ke masa sekarang tentu pandangan orang akan berbeda. 

Mulai Mengenal Penutup Dada

Masyarakat Bali pada akhirnya mulai mengenal pakaian yang menutup dada ketika sudah mulai banyak orang yang berdatangan. 

Ketika itu Bali sudah mulai menjadi destinasi wisata yang cukup populer di dunia. Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya wanita Bali mulai mengenal pakaian yang menutup dada. 

Hal ini tidak lepas juga dari aturan yang dibuat oleh kolonialisme Belanda. Dimana mereka menerbitkan aturan bahwa setiap wanita Bali harus menggunakan baju. 

Adapun tujuan adanya aturan itu bukan tanpa alasan. Hal ini ditujukan untuk memproteksi atau melindungi para tentara Belanda yang bertugas di Bali. 

Baca Juga: Lengkap Informasi Kalender Bali April 2023 Dan Upacaranya

Adanya aturan tersebut membuat banyak istri pangeran Bali mulai mengenakan pakaian yang menutup dadanya. Hal ini tentu menjadi sumber inspirasi untuk wanita lain dan banyak diikuti. 

Adanya aturan wajib menggunakan pakaian penutup dada pada akhirnya menghapus tradisi berpakaian bertelanjang dada bagi wanita. 

Kebiasaan wanita Bali tidak mengenakan penutup dada akhirnya berakhir. Tepatnya pada tahun 1990-an. 

Bahkan setelah tahun tersebut, wanita yang tidak mengenakan pakaian penutup dada akan dianggap sebagai wanita gunung yang tidak memiliki adat baik. 

Sejarah Tradisi Berpakaian Telanjang Dada

Kebiasaan wanita Bali tahun lampau yang tidak mengenakan penutup dada tentu bukan tanpa alasan. 

Bukan menjadi hal yang aneh atau unik juga ketika itu. Ada sebab-sebab yang menjadikan mereka menganut paham wanita perlu bertelanjang dada.

Kebiasaan bertelanjang dada yang disengaja ini sebagai bentuk ekspresi kejujuran. 

Melalui cara itu para wanita Bali ingin membuktikan bahwa buah dada yang mereka miliki memang benar-benar terlarang, tidak dapat disentuh dan sangat dijaga dengan baik.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Bali Calonarang: Asal Usul Leak Di Bali

Para wanita juga menjadi lebih bangga karena merasa bisa menjaga buah berharga tanpa pernah lagi takut karena sentuhan orang lain. 

Selain itu, pada masa itu pula wanita Bali mendapatkan kepercayaan orang lain dengan hanya memperlihatkan buah dada yang terbuka begitu saja. 

Ingat, hal tersebut merupakan ekspresi kejujuran tidak menipu sama sekali. Terlebih calon suaminya. 

Pada akhirnya tradisi tersebut semakin hari tidak relevan lagi. Terlebih untuk era seperti sekarang. 

Pakaian wanita dari batas pinggang ke bawah sudah tidak cocok untuk diteruskan lagi. Maka dari itu semakin berkembangnya zaman pakaian wanita maupun pria Bali tidak lagi bertelanjang dada. 

Tentang Tradisi Bali 1950-an Wanita Bertelanjang Dada

Demikianlah pembahasan mengenai salah satu tradisi Bali 1950-an yang dapat kita bahas. 

Intinya zaman yang terus berkembang maka adat maupun tradisi yang tidak relevan lagi akan ditinggalkan. 

Baca Juga: Lengkap Dasar Perhitungan Kalender Bali

Mudah-mudahan informasi tradisi bali tahun 1950-an seperti bertelanjang dada bagi perempuan diatas dapat menambah wawasan. Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar