Tradisi Sedekah Bumi “Apitan” Sebagai Ungkapan Rasa Syukur Masyarakat Jawa


Saat mengulik tradisi di tanah Jawa memang tidak akan ada habisnya.

Hal ini tentu saja dikarenakan masyarakat asli Jawa sejak dulu terkenal memiliki relasi yang sangat kuat dengan alam. 

Baca Juga: Tradisi Kirab Obang-Abing: Ritual Mengusir Hama

Kedekatan masyarakat asli Jawa dengan alam memang bukan hanya dalam tataran ritual saja melainkan juga selalu dijadikan syarat bagi nilai teologis. 

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah tradisi sedekah bumi “apitan”

Tradisi satu ini diyakini dimulai sekitar 500 tahun lalu, tepatnya pada masa-masa penyebaran agama Islam ditanah Jawa oleh Wali Songo. 

Lalu, bagaimana sebenarnya tradisi sedekah bumi atau apitan ini? Penasaran? Simak Berikut ulasannya!

Tradisi Sedekah Bumi “Apitan” Sebagai Ungkapan Rasa Syukur Masyarakat Jawa

Sekilas Tentang Tradisi Sedekah Bumi “Apitan” 

Tradisi sedekah bumi “apitan” merupakan sebuah tradisi sedekah bumi yang umumnya dilakukan oleh masyarakat asli Demak setiap satu tahun sekali. 

Nama Apitan ini sebenarnya diambil dari nama bulan yaitu Apit.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Petani Ruwat Rigen

Apit sendiri merupakan bulan sebelum bulan besar dalam penanggalan Jawa atau bulan terlaksananya Hari Raya Idul Adha. 

Nah oleh sebab itu, maka tak heran tradisi sedekah bumi “apitan” selalu dilakukan antar dua hari raya besar yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. 

Untuk tanggal spesifik pelaksanaannya biasanya ditentukan berdasarkan musyawarah oleh kepada Desa dan jajarannya. 

Tujuan Tradisi Apitan

Tradisi Apitan sendiri memiliki tujuan serta makna yang mendalam yang berkaitan dengan hal-hal religius. 

Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur yang dilakukan oleh semua masyarakat asli Demak kepada Allah SWT atas hasil panen yang sudah diterima. 

Prosesi sedekah bumi ini biasanya diawali dimana masyarakat datang berbondong-bondong ke Balai Desa. 

Masyarakat yang pergi ke Balai Desa ini tentu saja tidak dengan tangan kosong. 

Mereka membawa makanan serta minuman yang nantinya akan disantap bersama-sama setelah prosesi Apitan tersebut. 

Biasanya acara akan dimulai pada pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB yang diawali dengan sambutan dari Kepala Desa dilanjutkan dengan pertunjukkan wayang. 

Baca Juga: 5 Tujuan Tradisi Pingitan Adat Jawa Timuran

Sedangkan acara inti umumnya akan dimulai pada sore hari, seluruh masyarakat akan berkumpul serta melakukan selamatan. 

Setelah selesai, barulah mereka akan makan bersama dengan tujuan untuk mempererat tali silaturahmi. 

Tradisi Sedekah Bumi “Apitan” ditutup pada malam hari yang biasanya diisi dengan pagelaran wayang kulit, ketoprak serta kesenian lainnya. 

Selain itu, tradisi ini juga diselenggarakan bersamaan dengan khataman Al-Qur’an. 

Mitos Tentang Tradisi Sedekah Bumi “Apitan” 

Masyarakat asli Demak juga tentu masih meyakini adanya mitos terkait tradisi Apitan. 

Mitos ini merujuk pada sebuah kisah tentang bencana besar yang terjadi di desa pada zaman dahulu. 

Bencana besar itu disebut dengan pagebluk atau yang dikenal masyarakat Jawa yaitu wabah penyakit. 

Ciri bencana ini yaitu banyaknya warga yang meninggal bersamaan serta terus menerus. 

Konon katanya, pagebluk terjadi karena masyarakat tidak melakukan tradisi Apitan Wayangan. 

Baca Juga: Arti Mimpi Memiliki Rambut Palsu Yang Sebaiknya Diketahui

Oleh sebab itu, masyarakat Demak meyakini bahwa tradisi Apitan tidak boleh ditinggalkan. 

Sejak peristiwa tersebut tradisi Sedekah Bumi “Apitan” selalu dilakukan setiap tahunnya. 

Tentang Informasi Tradisi Sedekah Bumi Apitan

Itulah sekilas tentang Tradisi Sedekah Bumi “Apitan”. Tradisi ini memiliki makna serta tujuan yang mendalam dan berhubungan dengan hal religius. 

Pasalnya tradisi tersebut merupakan ungkapan rasa syukur yang dilakukan oleh masyarakat kepada sang pencipta atas hasil panen yang telah mereka terima. 

Baca Juga: Sejarah Singkat Kota Madiun dan Penamaanya

Selain itu, tradisi ini juga berkaitan erat dengan masa penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa oleh Wali Songo. 

Mudah-mudahan informasi tradisi sedekah bumi apitan diatas dapat menjadi referensi serta menambah wawasan. Semoga bermanfaat!

Review Google My Bussiness for Enkosa.com

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar