Penggunaan Kalender Jawa dalam Kesenian Tradisional Jawa


Penggunaan kalender Jawa dalam seni dan kesenian tradisional Jawa memang tak sepopuler pemakaiannya untuk menentukan jodoh atau momen penting.

Meski demikian, kesenian tradisional Jawa cukup terpengaruh oleh kalender Jawa.

Contohnya pengaruh kalender Jawa dalam seni dan kesenian tradisional Jawa, seperti wayang kulit, ludruk, lengger, begalan, dan lain-lain.

Baca Juga: Peranan Kalender Jawa Dalam Menentukan Momen Penting

Termasuk dalam menentukan tanggal pentas, pakaian, dan masih banyak lagi.

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan penggunaan kalender Jawa dalam seni dan kesenian tradisional Jawa. Simak pemaparannya berikut ini.

Penggunaan Kalender Jawa dalam Kesenian Tradisional Jawa

Pengaruh Kalender Jawa dalam Kesenian Tradisional Jawa

Tak banyak yang tahu bahwa kalender Jawa mempengaruhi seni dan kesenian tradisional Jawa.

Pengaruh ini tampak dalam hal waktu, tema, dan simbol. Beberapa contohnya antara lain:

  1. Penentuan Waktu Pertunjukan Wayang Kulit 

Masyarakat Jawa menentukan waktu pertunjukan wayang kulit berdasarkan hari dan pasaran yang baik untuk menghindari bala atau kesialan.

Wayang kulit adalah seni pertunjukan yang menggunakan boneka kulit sebagai media untuk menceritakan kisah-kisah epik Hindu dalam sejarah Jawa.

Pertunjukan ini biasanya ditampilkan pada malam hari hingga dini hari.

Hari dan pasaran yang baik untuk wayang kulit adalah yang memiliki neptu (jumlah angka hari dan pasaran) ganjil dan kecil.

Misalnya, Senin Wage (4), Selasa Pahing (3), Rabu Pon (7), Kamis Legi (5), atau Jumat Kliwon (8).

Baca Juga: Pengertian Hari Naas Dalam Kalender Jawa, Lengkap!

  1. Penentuan Tema Pertunjukan Ludruk 

Contoh penggunaan kalender Jawa dalam seni dan kesenian dapat dilihat dari pertunjukan ludruk.

Biasanya tema pertunjukan ludruk ditentukan berdasarkan bulan dan hari besar Islam yang berkaitan dengan sejarah perjuangan rakyat Jawa.

Ludruk adalah seni pertunjukan yang menggunakan dialog lucu dan nyanyian sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan sosial.

Bahkan, tak jarang seniman dulu menggunakan pertunjukan ini untuk melakukan kritik terhadap penguasa.

Ludruk biasanya ditampilkan pada siang hari di lapangan terbuka atau panggung sederhana.

Tema pertunjukan ludruk seringkali mengambil kisah-kisah dari sejarah perjuangan rakyat Jawa melawan penjajah atau penguasa yang zalim.

Misalnya, kisah Pangeran Diponegoro pada bulan Muharram, kisah Kyai Mojo pada bulan Safar, kisah Sunan Kalijaga pada bulan Maulud, dan lain-lain.

  1. Penentuan Simbol Penari Lengger 

Penentuan simbol penari lengger biasanya berdasarkan weton (gabungan hari dan pasaran) kelahirannya yang menunjukkan jenis kelaminnya.

Lengger adalah seni tari yang menggunakan gerakan lentur dan lincah sebagai media untuk mengekspresikan kegembiraan atau kesedihan.

Pertunjukan ini biasanya ditampilkan pada acara-acara hajatan atau syukuran di pedesaan.

Simbol penari lengger adalah kemben (kain penutup dada) yang berwarna merah atau biru.

Warna merah melambangkan perempuan, sedangkan warna biru melambangkan laki-laki.

Baca Juga: Sebagai Referensi Kalender Bali Bulan November 2023 Lengkap

Penari lengger harus memakai kemben sesuai dengan weton kelahirannya.

Misalnya, penari yang lahir pada Senin Kliwon (15) harus memakai kemben merah, sedangkan penari yang lahir pada Selasa Legi (10) harus memakai kemben biru.

  1. Penentuan Waktu Pertunjukan Begalan 

Selanjutnya, contoh penggunaan kalender Jawa dalam seni dan kesenian juga bisa dilihat dari pertunjukan Begalan. 

Penampilan Begalan biasanya berdasarkan tradisi pernikahan adat Jawa yang menggunakan kalender Jawa sebagai pedoman. 

Begalan adalah seni pertunjukan yang menggunakan dialog lucu dan nyanyian sebagai media untuk menghibur pengantin dan tamu undangan. 

Pertunjukan ini biasanya ditampilkan pada saat pengantin laki-laki menjemput pengantin perempuan di rumahnya atau saat pengantin perempuan masuk ke rumah pengantin laki-laki. 

Waktu pertunjukan begalan harus sesuai dengan tanggal baik untuk pernikahan berdasarkan weton pasangan. 

Weton yang baik adalah yang memiliki neptu genap dan besar. Misalnya, Senin Kliwon (15), Selasa Legi (10), Rabu Pahing (9), Kamis Pon (14), atau Jumat Wage (13).

Tentang Penggunaan Kalender Jawa Dalam Kesenian Jawa

Penggunaan Kalender Jawa dalam kesenian tradisional masyarakat Jawa memiliki peran yang tak ternilai. 

Kalender Jawa tidak hanya menjadi dasar waktu, tetapi juga memiliki simbolisme yang dalam pada karya seni. 

Baca Juga: Hari Baik Menebang Pohon, Kenali Tradisi Brubuh!

Meskipun terjadi modernisasi, upaya pelestarian dan revitalisasi tetap penting. 

Penggunaan kalender Jawa dalam  seni dan kesenian tradisional Jawa merupakan salah satu upaya pelestarian yang bagus agar budaya ini tetap hidup dan berkembang.

Mudah-mudahan informasi penggunaan kalender jawa pada kesenian jawa di atas dapat menjadi referensi. Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar