10 Filosofi Pernikahan Adat Jawa Yang Sakral


10 Filosofi Pernikahan Adat Jawa Yang Sakral

Filosofi Pernikahan Adat Jawa yang Sarat Akan Makna

Setiap orang tentu memiliki impian tersendiri pada momen pernikahannya. Ada yang memang ingin melangsungkan pernikahan secara modern maupun menggunakan adat.

Bagi kamu yang berasal dari suku Jawa misalnya, tentu ingin menggunakan adat Jawa. Sebelum melangsungkan pernikahan, ada baiknya kamu tahu filosofi pernikahan adat Jawa agar dapat memaknai lebih dalam. Apa saja? Yuk, simak!

Baca Juga: Kalender Jawa Mei 2023 Lengkap Hari Baik

10 Filosofi pernikahan adat Jawa

1. Pasang tratag dan tarub

Pemasangan dekorasi tenda yang disebut tratag dan pemasangan janur sebagai hiasan yang disebut tarub, tentu bukan tanpa alasan.

Kedua hiasan yang dipasang di depan pintu masuk seakan menjadi tanda jika sedang diadakan pernikahan. Selain itu, filosofi janur melengkung yang dipasang ialah meminta keberkahan dan kemakmuran untuk kedua mempelai.

2. Penyerahan sanggan

Sanggan menjadi sarana atau perantara guna meminta izin agar mempelai wanita boleh bersanding dengan mempelai pria.

Isi sanggan meliputi pisang raja yang sudah matang dari pohonnya sebanyak 2 sisir, kembang telon (mawar, melati, kenanga), siri ayu, juga benang lawe.

Nantinya, sanggan tersebut dibawah oleh pihak keluarga mempelai pria dan diserahkan kepada ibu mempelai wanita. Filosofi penyerahan sanggan ialah guna “menebus” pengantin wanita.

3. Balangan gantal atau balangan suruh

Filosofi dari prosesi balangan gantal atau balangan suruh ialah saling melempar kasih antara mempelai wanita dan mempelai pria yang sudah sah.

Gantal ialah lintingan daun sirih yang berisi bunga pinang, tembakau hitam, gambir juga kapur sirih.

Lihat juga: Perkiraan Biaya Pernikahan Tanpa Resepsi Super Hemat

4. Ngidak endog

Ngidak endog atau injak telur merupakan salah satu prosesi pernikahan adat Jawa yang Sarat akan makna.

Dalam prosesi ngidak endhog, suami atau mempelai pria akan menginjak telur mentah. Lalu, sang istri atau mempelai wanita akan membersihkannya dalam posisi berlutut yang bermakna kesopanan istri dihadapan suami.

Setelah itu, sang suami akan membantu istri berdiri. Filosofinya adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap sang istri.

Jadi, dalam prosesi ini ngidak endog, suami istri saling menghormati tanpa merendahkan satu sama lain.

5. Sinduran

Dalam prosesi sinduran, kedua mempelai dipersilahkan untuk berdampingan. Nantinya ibu mempelai wanita akan memakaikan kain sinduran dari belakang.

Setelah itu, pengantin akan berjalan menuju pelaminan dengan dibimbing ayah mempelai wanita.

Filosofi dari prosesi sinduran ini ialah sebagai simbol atau lambang menyatunya 2 hati, 2 keluarga, dan 2 kehidupan.

6. Timbang pangkon

Dalam prosesi timbang pangkon, ayah pengantin wanita akan memangku mempelai pria di paha sebelah kiri dan putrinya di sebelah kanan.

Filosofi dari prosesi ini ialah mertua akan memberikan kasih sayang sama besar kepada kedua pengantin.

Baca Juga: Ketentuan Pernikahan Berdasarkan Kalender Bali

7. Nanem Jero

Setelah melakukan prosesi timbang pangkon, ayah pengantin wanita akan bangkit dan mendudukkan kedua pengantin di pelaminan.

Prosesi tersebutlah yang disebut dengan “menanam”. Filosofi dari prosesi ini ialah diharapkan penanaman tersebut diharapkan menghasilkan keluarga yang manis dan bahagia.

8. Kacar-kucur

Filosofi prosesi kacar-kucur ialah pemberian nafkah yang berasal dari suami kepada sang istri.

Pada prosesi ini, sang pria akan mengucurkan beras, uang logam, dan juga biji-bijian dalam wadah ke tangan pengantin wanita.

9. Dulangan

Prosesi dulangan atau saling menyuapi ini memiliki filosofi kerukunan antar suami istri dan kemantapan hati guna membina rumah tangga.

10. Sungkeman

Prosesi terakhir yang akan kita bahas filosofinya ialah sungkeman. Sungkeman menjadi prosesi yang sangat mengharukan.

Pada tahap ini sang anak meminta maaf atas segala kesalahannya. Kesalahan sejak lahir hingga sampai menikah.

Selain meminta maaf, kedua mempelai akan mengucapkan terimakasih terhadap orang tuanya.

Filosofi dari prosesi sungkeman ialah, memohon restu guna menjalani kehidupan baru tanpa bergantung lagi terhadap kedua orangtuanya.

Lihat juga: Undangan Digital Pernikahan

Filosofi pernikahan adat Jawa memang sangat dalam. Sebenarnya ada banyak filosofi lainnya yang dapat kita temukan pada setiap prosesnya.

Nah itulah informasi terkait dengan Filosofi Pernikagan Adat Jawa yang sangat dalam dan menjiwai. Mudah-mudahan dengan informasi di atas dapat menambah wawasan kita, serta bisa menjadi referensi untuk kita kedepannya. Semoga bermanfaat!

Pencarian yang paling banyak dicari

  • filosofi pernikahan adat jawa
  • penjelasan prosesi nikah adat jawa
  • filosofi pernikahan adat sunda
  • filosofi pernikahan adat bali
  • menikah adat jawa
  • daftar prosesi menikah adat jawa islam
  • nikah adat jawa tengah dan jawa timur

Review Google My Bussiness for Enkosa.com

Artikel Terkait:

Tinggalkan komentar