Sejarah Hari Kereta Api (KA) 28 September

Sejarah Hari Kereta Api (KA) 28 September

Inilah Sejarah 28 September, Hari Kereta Api (KA) Yang Sebaiknya Diketahui! 

Hari Kereta Api Nasional selalu diperingati setiap tanggal 28 September setiap tahunnya. 

Penetapan tanggal 28 September, Hari Kereta Api tersebut tentu saja memiliki sejarahnya tersendiri. 

Bagaimana sejarahnya? Simak ulasannya berikut ini!

Berikut Sejarah Hari Kereta Api Nasional 28 September

Tanggal 28 September telah ditetapkan sebagai Hari kereta Api Nasional. Tanggal tersebut merupakan tanggal terjadinya puncak pengambilalihan perkeretaapian oleh Indonesia dari tangan Sekutu.
 
Sejarah Hari Kereta Api terjadi dimulai sejak tahun 1864 hingga 1942 dimana Pemerintah Hindia Belanda memegang penuh kekuasaan atas perkeretaapian Indonesia. 

Dalam kisaran waktu yang sangat panjang tersebut Pemerintah Hindia Belanda telah membangun rel kereta api yang terdapat di berbagai wilayah di Indonesia. 

Namun pada tahun 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. 

Karena kondisi tersebut, Jepang akhirnya mengambil alih perkeretaapian Indonesia. Jepang mengubah nama perkeretaapian Indonesia menjadi Rikuyu Sokyoku yang berarti Dinas Kereta Api. 

Selama masa kekuasaanya, seluruh operasional kereta api difokuskan pada keperluan perang Jepang. 

Salah satu pembangunan jalur kereta api pada masa kekuasaan Jepang yaitu lintas Saketi-Bayah serta Muaro-Pekanbaru. 


Jalur ini dibuat oleh Jepang untuk kepentingan pengangkutan hasil tambang batu bara. Hasil tambang tersebut digunakan Jepang untuk menjalankan mesin-mesin perang mereka. 

Tak hanya itu saja, Jepang juga melakukan pembongkaran rel sepanjang 473 km yang diangkut ke Burma untuk pembangunan kereta api disana. 

Pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan Kemerdekaannya. Dengan begitu maka Indonesia akan mulai mengambil alih kekuasaan Pemerintahan Jepang mulai dari kantor hingga aset, salah satunya yaitu perkeretaapian Indonesia. 

Tepat beberapa hari setelah proklamasi Kemerdekaan, Indonesia mengambil alih stasiun serta kantor pusat kereta api yang telah dikuasai oleh Jepang. 

Puncak dari rangkaian pengambilalihan apa yang menjadi hak Indonesia yaitu pada tanggal 28 September 1945 dimana Indonesia mengambil alih Kantor Pusat Kereta Api Bandung. 

Hal ini juga menandai berdirinya Djawatan Kereta Api Indonesia Republik Indonesia (DKARI). Tanggal tersebut hingga saat ini dijadikan sebagai Hari kereta Api Indonesia.

Karena pada tanggal tersebut menjadi puncak pengambilalihan perkeretaapian dari Pemerintah Jepang oleh Indonesia. 

Sejarah Perkeretaapian di Indonesia 

Pemerintah Hindia Belanda telah memegang kekuasaan atas perkeretaapian Indonesia sejak tahun 1864. 

Di tahun tersebut tepatnya pada tanggal 17 Juni 1864, pencangkulan pertama jalur kereta api yaitu Semarang-Vorstenlanden atau Solo-Yogyakarta di Desa Kemijen dimulai. 

Pencangkulan tersebut berada di bawah komando Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr.L.A.J Baron Sloet Van De Beele. 

Pembangunan tersebut dijalankan oleh sebuah perusahaan swasta bernama Naamlooze Vennootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) dengan menggunakan lebar sepur 1435 mm. 

Pada tanggal 8 April 1875, Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun jalur kereta api negara serta pembangunan yang dilaksanakan oleh Staatsspoorwegen (SS), yang merupakan sebuah perusahaan kereta api yang pada akhirnya diserahkan ke Indonesia. 

Rute pertama yang dibuat yaitu rute Surabaya-Pasuruan-Malang. Keberhasilan NV. NISM serta SS dalam membuat jalur perkeretaapian mendorong para investor swasta untuk membangun kembali jalur kereta api Indonesia. 

Berikut ini beberapa perusahaan yang berkontribusi dalam pembuatan jalur perkeretaapian Indonesia: 
  • Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS)
  • Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) 
  • Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) 
  • Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS) 
  • Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM) 
  • Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM)
  • Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM) 
  • Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM) 
  • Malang Stoomtram Maatschappij (MS) 
  • Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM) 
  • Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) 
Setelah banyaknya pembangunan jalur rel di wilayah Jawa, Pemerintah Hindia Belanda kembali meluaskan pembangunan ke wilayah Indonesia lainnya seperti: 
  1. Aceh pada tahun 1876 
  2. Sumatera Utara pada tahun 1889
  3. Sumatera Barat pada tahun 1891
  4. Sumatera Selatan pada tahun 1914
  5. Sulawesi pada tahun 1922 Wilayah 
  6. Kalimantan, Bali, dan Lombok pun masuk dalam pertimbangan. 
Namun wilayah tersebut hanya sampai pada tahap studi, pemasangan jalan rel belum sampai pada tahap pembangunan. 

Hingga akhirnya pada tahun 1928, panjang jalan kereta api serta trem di Indonesia telah mencapai 7.464 km dengan perincian rel milik Pemerintah Jepang sepanjang 4.089 km serta swasta sepanjang 3.375 km. 

Setelah masa Pemerintahan Hindia Belanda, perkeretaapian Indonesia dikuasai oleh Jepang. 

Namun pada masa kekuasaan Jepang, perkeretaapian hanya digunakan untuk keperluan angkutan bahan serta logistik perang. 

Perkembangan kepemilikan perkeretaapian Indonesia sebelum sampai ke tangan Indonesia, yakni dimulai dari kepemilikan Belanda dari tahun 1864-1942 sedangkan Jepang 1942-1945. 

Sejak tanggal 28 September 1945, kepemilikan perkeretaapian jatuh ke tangan Indonesia. Namun sayang kekuasaannya tidak berlangsung lama. 

Pada tahun 1946, Belanda kembali ke Indonesia, mereka membentuk kembali perkeretaapian di Indonesia bernama Staatsspoorwegen/Verenigde Spoorwegbedrif (SS/VS) yaitu gabungan dari SS dan seluruh perusahaan perkeretaapian swasta kecuali DSM. 

Dikarenakan pergolakan terus terjadi antara Indonesia dan Belanda maka Konferensi Meja Bundar (KMB) dilakukan pada Desember 1949. 

Salah satu hasil konferensi tersebut yaitu berkaitan dengan kepemilikan perkeretaapian Indonesia. 
Berdasarkan perjanjian damai KMB, Indonesia akan mengambil alih segala aset milik Pemerintah Hindia Belanda. 

Pengambilalihan tersebut dilakukan pada tahun 1950 dengan menggabungkan DKARI dengan SS/VS milik Belanda dan menjadikannya sebagai Djawatan Kereta Api (DKA). 

Berikut ini beberapa perkembangan nama dari perusahaan perkeretaapian Indonesia: 
  • Tahun 1950 : Djawatan Kereta Api (DKA) 
  • 25 Mei 1950 : DKA diganti menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA)
  • 1971 : Pemerintah mengubah struktur PNKA menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) 
  • 1991 : PJKA berubah bentuk menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) 
  • 1998 : Perumka berubah menjadi Perseroan Terbatas, yaitu PT. Kereta Api Indonesia (KAI) 
Hingga saat ini PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki tujuh anak perusahaan yaitu PT. Reska Multi Usaha, PT. Railink, PT. Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek, PT. Kereta Api Pariwisata, PT. Kereta Api Logistik, PT. Kereta Api Properti Manajemen dan PT. Pilar Sinergi BUMN Indonesia. 

Nah itulah sekilas tentang sejarah 28 September, Hari kereta Api Indonesia.

Mudah-mudahan informasi mengenai Sejarah Hari Kereta Api Indonesia yang cukup panjang diatas dapat menambah wawasan serta menjadi referensi untuk kita semua. Semoga bermanfaat!

Pencarian yang paling banyak dicari

  • sejarah kereta api di indonesia
  • sejarah kereta api tanah melayu
  • buku sejarah kereta api di indonesia
  • makalah sejarah kereta api indonesia
  • pertanyaan tentang sejarah kereta api
  • selamat hari kereta api indonesia
  • tema peringatan hari kereta api indonesia
  • caption hari kereta api indonesia
Enkosa
Enkosa Akurat dan terpercaya. Lebih dekat dengan saya cek IG @endikekos

Review Enkosa.Com