Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H – Template yang kami sampaikan dibawah ini merupakan khutbah yang biasa digunakan ketika selesai shalat ied Idul Fitri 2026 / 1447 H.
Baca Juga: 100 Template Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 2026 / 1447 H
Bagi anda yang mencari Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H maka anda sudah berada ditempat yang tepat. Karena dalam artikel ini akan kami berikan contoh Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H.
Kumpulan Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H
Di bawah ini adalah kumpulan Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H yang bisa anda pilih. Silahkan pilih Ucapan di bawah sesuai selera anda.
Download Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H
Di bawah ini adalah file PDF Khutbah untuk Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026
- Kepemimpinan, Amanah Yang Akan Dipertanggung Jawabkan Link
- Pesan Persaudaraan di Hari Fitri Link
- Dengan Puasa Kita Kembali Ke Fitrah Untuk Mewujudkan Ketaqwaan Sejati Link
Khutbah Singkat
Khutbah Idul Fitri: Menemukan Kembali “Diri yang Sejati” di Era Distraksi
اللَّه أَكْبَرُ (٣×) اللَّه أَكْبَرُ (٣×) أَكْبَرُاللهُ (٣×) اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Di pagi yang fitri tahun 2026 Masehi ini, kita masih diberi napas dan detak jantung untuk bersimpuh di hadapan-Nya, merayakan selesainya madrasah Ramadhan 1447 H. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah cahaya yang menuntun kita keluar dari kegelapan menuju terang benderangnya iman.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Hari ini, gema takbir bukan sekadar ornamen suara. Ia adalah proklamasi kemenangan. Namun, mari kita bertanya pada diri sendiri di tengah keriuhan perayaan ini: Kemenangan seperti apa yang sedang kita rayakan?
Dunia tempat kita berpijak saat ini adalah dunia yang sangat bising. Kita sering kali merasa lelah bukan karena bekerja, tapi karena pikiran yang terdistraksi oleh ambisi, kompetisi di media sosial, dan kecemasan akan masa depan. Di sinilah makna “Fitrah” menjadi sangat relevan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 30:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Sidang Idul Fitri yang berbahagia,
Kembali ke “Fitrah” berarti melakukan factory reset pada jiwa kita. Selama satu bulan di bulan Ramadhan 1447 H H, kita telah dilatih untuk:
- Menahan Diri (Self-Control): Di zaman yang serba instan ini, puasa mengajarkan kita bahwa tidak semua keinginan harus dituruti seketika.
- Kepekaan Sosial (Empathy): Rasa lapar kita adalah jembatan rasa menuju mereka yang kekurangan, sebuah pengingat agar kita tidak menjadi hamba yang egois.
- Koneksi Spiritual: Kita belajar bahwa di balik kesibukan duniawi, jiwa kita merindukan dialog dengan Sang Pencipta melalui tilawah dan sujud malam.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kemenangan hari ini akan menjadi semu jika besok kita kembali menjadi pribadi yang pemarah. Kemenangan ini akan sia-sia jika setelah ini kita kembali memutus silaturahmi hanya karena perbedaan pilihan atau pandangan.
Ujian sejati Idul Fitri bukanlah saat kita mampu menahan lapar sebulan penuh, melainkan saat kita mampu membawa “bau harum” Ramadhan ke bulan-bulan berikutnya. Kemenangan yang “Fresh” adalah ketika kita mampu menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih jujur, dan lebih peduli kepada sesama di tengah dunia yang semakin individualis.
Mari kita jadikan momentum tahun 2026 ini sebagai titik balik. Pulanglah ke rumah dengan hati yang lapang. Temui orang tua, peluk anak-istri, sapa tetangga, dan hapus segala dendam. Karena setinggi apa pun ketaatan kita kepada Allah, tidak akan sempurna tanpa kebaikan kita kepada sesama manusia.
تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ.
Semoga Allah SWT menerima setiap sujud, doa, dan sedekah kita. Semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan mendatang dalam keadaan yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih manusiawi.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. وتقبل الله منا ومنكم صالح الأعمال. آمين.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Khutbah Idul Fitri: Memaafkan di Era Digital, Menyembuhkan Hati yang Luka
اللَّه أَكْبَرُ (٣×) اللَّه أَكْبَرُ (٣×) أَكْبَرُاللهُ (٣×) اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT, yang dengan rahmat-Nya kita sampai pada fajar kemenangan di tahun 2026 M ini. Kita berkumpul di sini, bukan hanya untuk merayakan berakhirnya lapar dan dahaga, melainkan untuk merayakan kembalinya jiwa yang bersih. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, manusia paling pemaaf yang pernah menginjakkan kaki di bumi.
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,
Di hari yang fitri ini, marilah kita memperbarui takwa kita. Takwa bukan hanya tentang seberapa banyak rakaat shalat kita, tapi juga tentang seberapa luas samudra maaf di dalam dada kita.
Hari ini, kita sering terjebak dalam budaya “maaf formalitas”. Kita mengirim pesan singkat ke ratusan orang, namun mungkin hati kita masih menyimpan ganjalan pada orang yang duduk di sebelah kita. Kita mudah tersinggung karena komentar di media sosial, atau menyimpan dendam menahun karena urusan duniawi yang sepele.
Allah SWT mengingatkan kita dengan sangat lembut dalam Surah Al-A’raf ayat 199:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
“Jadilah pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ayat ini mengandung tiga strategi besar untuk kesehatan mental dan spiritual kita di tahun 1447 H ini:
- Jadilah Pemaaf (Khudzil ‘Afwa): Memaafkan itu bukan menunggu orang lain meminta maaf. Memaafkan adalah melepaskan beban di pundak kita sendiri. Orang yang menyimpan dendam seperti memegang bara api yang panas; ia berharap orang lain terbakar, padahal tangannya sendirilah yang melepuh.
- Ajaklah pada Kebaikan: Idul Fitri adalah momentum untuk menyambung kembali silaturahmi yang terputus (rekoneksi). Jika ada hubungan yang retak karena harta, karena beda pendapat, atau karena lisan yang tajam, hari inilah saatnya memperbaikinya.
- Berpaling dari Kebodohan: Jangan biarkan energi kita habis untuk menanggapi kebencian atau nyinyiran yang tidak bermanfaat. Fokuslah pada kedamaian batin.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ketahuilah, bahwa meminta maaf itu butuh keberanian, namun memberi maaf jauh lebih membutuhkan kemuliaan hati. Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan (izzah).
Mari kita jadikan Idul Fitri tahun 2026 ini sebagai momen “Detox Hati”. Bersihkan hati dari virus iri dengki, buang sampah amarah, dan instal kembali kasih sayang kepada sesama. Jangan biarkan matahari terbenam hari ini sementara masih ada tembok ego yang menghalangi kita untuk saling berpelukan dan saling memaafkan.
Bayangkan jika hari ini adalah Idul Fitri terakhir kita. Masihkah kita ingin menyimpan kebencian? Tentu tidak. Maka, tuluskanlah niat, rendahkanlah hati.
اللهم اجعلنا من العائدين والفائزين، وتقبل منا ومنكم صالح الأعمال، وكل عام وأنتم بخير.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita kepada-Nya, dan melapangkan hati kita untuk saling mengampuni dosa antar sesama manusia. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Khutbah Idul Fitri: Menenun Kembali Benang Silaturahmi yang Rapuh
اللَّه أَكْبَرُ (٣×) اللَّه أَكْبَرُ (٣×) أَكْبَرُاللهُ (٣×) اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertautkan hati kita dalam iman. Di pagi yang cerah pada tahun 2026 Masehi ini, kita berkumpul sebagai satu keluarga besar, merayakan kemenangan atas diri sendiri di bulan Ramadhan 1447 H. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sang teladan utama dalam menjaga ukhuwah dan kasih sayang.
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,
Mari kita tingkatkan takwa dengan cara yang paling nyata: Memperbaiki hubungan antar sesama.
Hari ini, kita hidup di zaman di mana teknologi membuat yang jauh terasa dekat, namun ironisnya, yang dekat sering kali terasa jauh. Kita bisa mengirim ucapan “Selamat Idul Fitri” ke ribuan orang dalam sekejap, namun terkadang kita lupa menyapa tetangga sebelah rumah, atau bahkan gagal menatap mata orang tua kita dengan penuh kasih karena sibuk dengan layar di genggaman.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Surah An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengapa Allah menutup ayat ini dengan menyebutkan sifat sombong dan membanggakan diri? Karena penghalang utama silaturahmi adalah Ego.
- Sombong membuat kita enggan meminta maaf lebih dulu.
- Membanggakan diri membuat kita merasa lebih tinggi sehingga enggan menyapa mereka yang lebih rendah status sosialnya.
Silaturahmi di tahun 2026 ini jangan hanya menjadi rutinitas kunjungan fisik. Mari kita jadikan silaturahmi sebagai “Penyembuh Luka”.
- Sambungkan kembali tali yang sempat putus karena urusan warisan atau utang piutang.
- Eratkan kembali hubungan yang renggang karena perbedaan pandangan politik atau pilihan hidup.
- Kunjungilah tetangga yang selama ini mungkin hanya kita kenal namanya tanpa pernah tahu bebannya.
Ingatlah sabda Rasulullah SAW, bahwa silaturahmi bukan sekadar membalas kebaikan orang yang baik kepada kita. Tapi silaturahmi yang sejati adalah menyambung hubungan dengan orang yang telah memutusnya. Inilah level tertinggi dari kematangan iman kita setelah sebulan dididik di madrasah Ramadhan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita jadikan momen Idul Fitri 1447 H ini untuk benar-benar “hadir”. Letakkan ponsel sejenak, tataplah wajah-wajah di sekitar kita, dengarkan cerita mereka, dan bagikan kasih sayang yang tulus. Karena pada akhirnya, bukan harta yang kita banggakan di hadapan Allah, melainkan seberapa banyak hati yang kita buat bahagia dan seberapa kuat ukhuwah yang kita jaga.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، إنك سميع قريب مجيب الدعوات. والله أعلم بالصواب.
Semoga Allah melembutkan hati kita semua dan menjadikan kita umat yang satu, yang saling menguatkan dan saling mencintai karena-Nya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Template 1: Khutbah Pertama Idul Fitri 2026 / 1447 H
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ
الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah
Alhamdulillahirabbilalamin menjadi kalimat yang paling tepat kita ucapkan pada momentum mulia di pagi hari ini.
Pasalnya, Allah SWT masih terus mengalirkan nikmat yang tidak bisa kita hitung satu persatu, di antaranya nikmat kesehatan sehingga kita bisa hadir dan menikmati kebahagiaan Idul Fitri bersama orang-orang yang kita cintai.
Banyak dari saudara-saudara kita yang tidak bisa merasakan aura dan kebahagiaan lebaran karena sakit atau sudah dipanggil terlebih dahulu oleh Allah swt untuk menghadap-Nya.
Semua ini harus kita syukuri agar kita tidak termasuk dalam golongan orang yang kufur nikmat dan juga menjadi orang-orang yang menyesal karena nikmat-nikmat ini dicabut oleh Allah swt.
Kita mampu merasakan penting dan manisnya nikmat Allah, ketika nikmat itu sudah tidak lagi bersama kita.
Seperti anugerah kesehatan yang kita rasakan saat ini, akan semakin terasa nikmatnya ketika sakit sudah menghampiri kita.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah
Pada kesempatan kali ini, mari kita juga terus menguatkan ketakwaan kita kepada Allah swt yang merupakan tujuan utama sekaligus buah dari perintah puasa di bulan Ramadhan.
Sebagaimana ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an yang sangat masyhur tentang perintah puasa yakni:
يٰٓاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah:183).
Sehingga bisa dikatakan bahwa hari ini, setelah kita melaksanakan ibadah puasa dengan iman dan kepasrahan diri kepada Allah, maka sikap-sikap ketakwaan sudah seharusnya bersemayam dalam diri kita.
Sikap itu di antaranya adalah keteguhan hati untuk menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.
Baca Juga: Apa Itu Kejawen Kuno Dan Tradisi Yang Tersisa!
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah
Momentum Idul Fitri kali ini juga menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk mengumandangkan takbir sebagai wujud mengagungkan Allah swt. Allah lah dzat yang paling besar. Tidak ada yang lebih besar dari-Nya.
Allah lah yang paling berhak atas segala apa yang terjadi di alam semesta, termasuk apapun yang terjadi pada diri kita.
Kita adalah makhluk-Nya yang lemah tiada daya. Makhluk yang diciptakan dari tanah yang proses penciptaannya memberikan pelajaran mendalam bagi kesadaran tentang siapa kita, di mana kita, dan akan kemana kita.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’minun ayat 12:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ
Artinya, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (yang berasal) dari tanah.”
Kemudian dilanjutkan dengan ayat 13:
ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ
Artinya: “Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim).”
Selanjutnya Allah swt menjelaskan keagungan dan kekuasaan-Nya memproses terbentuknya jasad dan ruh kita dalam ayat 14:
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ
Artinya: “Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.”
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah
Tiga (3) ayat ini menyadarkan kita untuk kembali merenungkan betapa agung-Nya Allah swt dan betapa lemahnya kita.
Jika kesadaran ini kita tanamkan dalam jiwa kita, maka bisa dipastikan kita akan senantiasa patuh dan takut karena cinta kepada Allah swt.
Dari 3 ayat ini kita harus menyadari bahwa kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya.
Kita berawal dari kondisi yang lemah dan akan kembali menjadi lemah. Kita akan melewati sebuah siklus yang berasal dari tidak ada dan akan kembali kepada ketiadaan kembali.
Allah swt berfirman:
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Artinya, “Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan?” (QS Al-Baqarah: 28).
Takbir, tahmid, dan tahlil yang kita kumandangkan dari lisan kita di hari yang fitri ini harus kita tancapkan juga dalam hati kita. Takbir yang membesarkan nama Allah, harus serta merta mengecilkan nafsu dan kesombongan kita. Takbir tanda kebahagiaan Idul Fitri, harus serta merta menjadi tanda perubahan untuk menjaga kesucian ini. Takbir di Idul Fitri ini harus tumbuh dari dalam hati untuk menjadi pujian terbaik bagi penguasa alam semesta.
Mari renungkan kembali doa kita saat i’tidal shalat yang setiap hari kita baca:
رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ
Artinya: “Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Engkau kehendaki sesudah itu.”
Baca Juga: Koleksi Twibbon Hari Raya Idul Fitri 2026/1447 H Terbaru
Doa ini menjadi sebuah pengakuan kita, atas kebesaran Allah yang lebih besar kebesarannya dari bumi dan segala isinya. Doa ini sekaligus harus menyadarkan betapa kecilnya kita di hadapan Allah swt.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Karena itu, jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah
Mari jadikan Idul Fitri kali ini sebagai renungan suci akan kebesaran Allah swt sekaligus tekad untuk menjaga kesucian diri. Setelah melalui kawah candradimuka perjuangan dan pendidikan di bulan Ramadhan, kita harus mampu menjadi pribadi yang paripurna setelah gemblengan puasa satu bulan penuh.
Dalam puasa, kita diajarkan menahan diri untuk tidak makan dan minum, sehingga setelah puasa jangan lagi kita memakan yang bukan hak kita. Dalam puasa kita terbiasa dengan bibir kering karena kehausan, mata kita sayu karena kelelahan, dan perut kita kosong menahan lapar, sehingga jangan sampai ke depan tangan-tangan kita kotor karena berbuat zalim kepada orang lain.
Pada Ramadhan kita yang bisa khusyuk dalam shalat, sehingga jangan lagi setelah Ramadhan kita juga khusyuk merampas hak orang lain. Pada Ramadhan, kita lihai membaca ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga jangan sampai kita juga lihai menipu orang lain.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ. ،وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
‘Artinya, ’Ya Allah, tampakkanlah kepadaku kebenaran sebagai kebenaran dan kuatkanlah aku untuk mengikutinya serta tampakkanlah kepadaku kesalahan sebagai kesalahan dan kuatkan pula untuk menyingkirkannya.’‘ (HR Imam Ahmad).
Mari jadikan Idul Fitri kali ini, Idul Fitri kita yang terbaik, karena kita tidak akan tahu apakah kita akan bisa bertemu dengan Idul Fitri di masa yang akan datang atau tidak.
Mari kita saling memaafkan dengan sesama atas segala dosa yang telah kita lakukan untuk semakin menguatkan kesucian kita. Rasulullah bersabda dalam haditsnya:
الْفَضْلُ فِيْ أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ (رواه هناد)
Artinya, “Keutamaan adalah bahwa engkau menghubungi orang yang memutusimu, dan engkau memberi orang yang tidak memberimu, dan engkau memaafkan orang yang menganiayamu.” (HR Hanaad, Kitab Al-Jami’us Shaghir).
Terutama meminta maaf kepada kedua orang tua kita yang telah melahirkan kita ke dunia. Beruntunglah yang masih memiliki kedua orang tua.
Mereka adalah jimat yang harus kita jaga. Merekalah yang telah berjasa dalam kehidupan kita dan menghantarkan kita meraih kesuksesan kehidupan di dunia.
Bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia, bukan berarti selesai bakti kita kepada mereka. Ziarahilah makamnya.
Berdoalah kepada Allah untuk mengampuni segala dosa dan menerima amal ibadahnya.
Bukan harta, jabatan, dan materi dunia yang mereka harapkan dari anak-anaknya. Namun untaian doa dan kebaikan para penerusnya lah yang mereka nanti-nantikan di alam kuburnya.
Semoga Allah swt menerima doa-doa kita untuk orang tua kita. Amin.
Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah
Demikian khutbah Idul Fitri yang mudah-mudahan bisa menjadi renungan suci kita di hari yang fitri ini.
Semoga amal ibadah kita selama Ramadhan dan hari-hari selanjutnya akan senantiasa diterima oleh Allah swt.
Semoga kita dijadikan golongan orang-orang yang kembali suci dan meraih ketakwaan. Amin.
جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ الله لِى وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيْنَا وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Baca Juga: Ucapan Selamat Kepada Kakak OSIS
Template 1: Khutbah Kedua Idul Fitri 2026 / 1447 H
اللهُ اَكْبَرُ (٣×) اللهُ اَكْبَرُ (٤×) اللهُ اَكْبَرُ كبيرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذي وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Template 2: Khutbah Pertama Idul Fitri 2026 / 1447 H
Oleh: Prof Dr Dadang Kahmad, MSi
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ:
اَتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.
Puji dan syukur kita persembahkan kepada Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya yang tiada terhingga kepada kita sekalian, terutama nikmat iman dan Islam.
Sehingga di pagi hari yang indah ini kita berkumpul bersama, bersimpuh dihadapan-Nya merayakan Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H.
Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada Nabiullah Muhammad saw, kepada keluarganya dan para sahabatnya termasuk kita sebagai pengikutnya.
Muhammadiyah menetapkan tanggal 1 Syawal 1447 H bersamaan dengan pemerintah, adalah hasil perhitungan hisab hakiki wujudul hilal.
Sesungguhnya masalah penanggalan bulan hijriyah seharusnya sudah dianggap selesai jika kaum muslimin sudah mempunyai kalender tetap dan baku.
Kapan tepatnya lebaran, apakah lima tahun ke depan bahkan dua puluh tahun kedepan sudah bisa diketahui dengan pasti melalui sistem hisab.
Karena di zaman modern seperti sekarang ini teknologi hisab sudah canggih, ilmu astronomi sudah sedemikian maju, sehingga peristiwa yang sifatnya rutin seperti awal bulan maupun gerhana, sudah dapat dihitung dengan lebih akurat dan pasti.
Walaupun begitu kita tetap harus mempunyai sikap toleran kepada sebagian masyarakat yang kekeh menggunakan rukyatul hilal, berusaha untuk melihat dengan mata kepala ada atau tidak adanya hilal.
Padahal kondisi dan situasi perikliman di Indonesia sangat sulit untuk melakukan rukyat.
Yang jelas hampir setiap tahun kemungkinan bulan Sya’ban maupun Ramadhan digenapkan 30 hari dengan alasan belum terlihat hilal.
Hadirin yang berbahagia,
Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana kita bisa berkontemplasi, bulan saatnya kita mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada bulan puasa selama sebulan kita mengabaikan kehidupan jasmaniah dengan meninggalkan makan minum di siang hari dan lebih berpihak kepada kehidupan batiniyah dengan banyak beribadah, berdzikir dan muhasabah diri.
Puasa kalau diibaratkan seperti peralihan bentuk yang dialami seekor ulat ketika ingin menjadi seekor kupu-kupu dengan menjadi kepompong.
Dan jika kepompong mampu merubah ulat bulu hitam menjadi kupu-kupu yang indah berwarna warni, maka shaum Ramadhan diharapkan menjadikan diri kita manusia yang indah yaitu menjadi Muttaqin dan Muhsinin
Ibadah shaum, diharapkan mampu meningkatkan keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT, keyakinan bahwa hanyalah Dia yang menghidupkan dan mematikan manusia.
Ditangan Allah nasib manusia ditentukan, hanya kepada-Nya lah kita mengabdi dan menggantungkan segala urusan, dan kepada-Nya lah kita semua dikembalikan.
Kita mesti meyakini bahwa hidup ini hanya sementara, dimana kita semua akan kembali menghadap kepada-Nya.
Untuk dimintai pertanggung jawaban atas segala apa yang telah kita perbuat baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk.
Keyakinan terhadap hisab di akhirat itu penting untuk mengingatkan kita dan menghindarkan kita dari keserakahan dan kezaliman yang sekarang menguasai kehidupan manusia.
Ibadah shaum memberi semangat kepada kaum muslimin untuk berjuang demi agama, menegakan kemajuan dan kemakmuran.
Membangun masyarakat Islam yang berkemajuan, kita dianjurkan oleh agama untuk memberi manfaat sebanyak banyaknya bagi manusia.
“Khoirunnas Anfa ‘uhum linnas”
Ibadah shaum juga memupuk diri kita menjadi manusia munfiqin atau dermawan penuh perhatian terhadap tetangga dan kaum kerabat, memberi makan fakir miskin, memelihara anak yatim dan selalu memberi pertolongan kepada yang membutuhkan.
(yunfiquuna fi sara’i wa dhoroi) Dermawan adalah akhlak para nabi dan rasul juga kebiasaan orang-orang saleh.
Pemurah adalah akhlak terpuji, dirahmati hidupnya dan diberkahi hartanya dan keturunannya, dijauhkan dari malapetaka dan kesengsaraan.
Batinnya bahagia, dadanya lapang, hatinya gembira dan sejahtera.
اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ
Hadirin yang berbahagia,
Hasil Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-48 dalam isu isu strategis keumatan dicantumkan mengenai spiritualitas generasi Millenial.
Hal ini sangatlah tepat kita mengkhawatirkan keberagamaan generasi muda terutama generasi Milenial dan generasi yang lahir setelah tahun 2000 an.
Karena beberapa penelitian menggambarkan bahwa generasi millenial kurang religious dibanding dengan generasi sebelumnya. Generasi milenial adalah generasi yang lahir dalam rentang waktu awal tahun 1980 hingga tahun 2000.
Kini generasi milenial disebut sebagai populasi terbesar di dunia termasuk di Indonesia.
Dengan jumlah yang besar, generasi milenial dinilai memiliki beberapa karakteristik menonjol yang bisa dibilang unik dibandingkan generasi sebelumnya,
Yaitu: mudah beradaptasi, melek teknologi, achievement-oriented atau berorientasi pada pencapaian, butuh perhatian, meme generation, berpikiran terbuka dan mudah bosan.
Baca Juga: Ucapan Selamat Kenaikan Pangkat Jabatan Saat Pelantikan 2026
Karakteristik tersebut di atas, mempengaruhi terhadap tingkat pemahaman dan kualitas keberagamaan mereka.
Hasil survey tahun 2016 di 12 negara Eropa terhadap orang yang berusia antara 16 hingga 29 tahun memperlihatkan mayoritas dari mereka mengaku tidak menganut agama.
Angka anak muda yang tidak beragama sangat tinggi, terutama di Republik Ceko, yang proporsinya mencapai angka 91%.
Juga di Estonia, Swedia, dan Belanda, yang angkanya berkisar antara 70% hingga 80%.
Memang penelitian ini di Eropa, tetapi ada khawatirkan menimpa juga kepada generasi millenial Indonesia karena fenomena kemajuan teknologi komunikasi juga melanda negeri ini.
Berdasarkan kondisi tersebut, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah perlu mengadakan perhatian khusus kepada generasi Millenial ini agar kekhawatiran tersebut tidak terbukti. Muhammadiyah perlu mengadakan survey khusus tentang keberagamaan mereka.
Dan menyusun strategi khusus dakwah kepada mereka yang tentunya sangat berbeda dengan strategi dakwah kepada generasi sebelumnya.
Perhatian Dakwah Generasi millennial perlu ditangani serius kalau tidak ada lembaga khusus mungkin bisa mengefektifkan lembaga atau majelis yang sudah ada.
Seperti Lembaga Dakwah Khusus dan Majelis Tabligh dibantu untuk literasi digitalnya oleh Majelis Pustaka dan informasi.
Kita jangan terlalu optimistik dengan banyaknya sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang di dalamnya ada pelajaran Ismuba dan AIK.
Karena survey di atas juga memberikan informasi bahwa walaupun mereka menerima pelajaran agama di sekolah mereka mengaku tidak berbekas.
Oleh karena itu kita kaum muslimin perlu mengefektifkan Pendidikan agama pada anak anak kita.
Jangan sampai pelajaran agama hanya sampai di tingkat kognitif saja seperti halnya pelajaran yang lain.
Pelajaran agama perlu internalisasi nilai sehingga tumbuh kesadaran beragama dan tumbuh akhlak ( kepribadian) yang baik.
Oleh karena itu, pendidikan/pelajaran agama di sekolah maupun di keluarga hendaknya tidak semata diorientasikan pada penguasaan materi secara intelektual.
Perlu diorientasikan dan dikorelasikan dengan penguatan dan pengayaan praktek ajaran dalam konteks kepentingan sosial yang lebih manusiawi dan universal.
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.
Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (Annisa:9)
Ayat 9 surat AN-Nisa ini memberi peringatan pada kita kaum Muslimin untuk benar benar memperhatikan generasi muda atau anak anak cucu kita agar mereka tetap beragama Islam dan melaksanakan serta merasa khawatir terhadap kesejahteraan mereka.
Karena yang jadi masalah sekarang anak anak kita dirangsang oleh kehidupan yang serba materialistis, penuh dengan keserakahan, dipertontonkan iklan yang menarik untuk memperturutkan hawa nafsu, disediakan penjualan barang mewah di sekeliling kita.
Dan semua generasi muda menikmati tayangan di media sosial, yang kalau tidak terlatih maka mereka akan terbawa oleh konten negatif yang ada di handphone mereka,
Untuk itu anak anak muda perlu diberi pendidikan yang mencerdaskan sehingga mereka bisa membedakan mana yang baik bagi dirinya dan mana yang buruk bagi dirinya.
Kemampuan daya pilih itu hanya dimiliki oleh orang orang yang mempunyai pengetahuan tentang baik buruk, salah dan benar serta pengetahuan untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya.
اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Di akhir khutbah ini saya ingin mengajak hadirin sekalian marilah kita tetap teguh dalam keislaman kita.
Baca Juga: Kalender Hijriyah Bulan November 2023 dan Jadwal Puasanya
Janganlah terbawa arus kehidupan dan terombang ambing oleh keadaan sekeliling kita. Kehidupan sekarang sangat memuja materi dan keberagamaan tanpa dalil syar’i yang kuat.
Apalagi di tahun 2023/2024 adalah tahun politik yang banyak sekali tarikan tarikan yang tidak menguntungkan terhadap keberagamaan kita.
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah, yang mereka ikuti hanya persangkaan saja dan mereka hanya menyebarkan kebohongan”, (Al-An’am 116).
Kedepan kemungkinan kebencian terhadap kaum muslimin akan makin meningkat, dengan berbagai cara yang diekspresikan melalui kultural maupun struktural.
Kedepan godaan terhadap iman dan keislaman kita akan semakin luar biasa yang didukung oleh kecanggihan teknologi informasi.
Oleh karena itu bersabarlah atas cobaan dan hendaknya kita dan keluarga selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah, istiqomah dalam menghadapi kehidupan.
Memantapkan ukhuwah Islamiyah hindari konflik dan saling menyalahkan sesama umat, Tekunlah melaksanakan ibadah.
Dan ingatlah selalu bahwa hidup kita ini terbatas, sebentar waktunya, dan kita akan kembali kehadirat-Nya dan mempertanggung jawabkan atas segala yang telah kita lakukan.
Pada zaman media sosial sekarang ini kaum Muslimin harus berhati hati karena jangan sampai kita terjebak oleh informasi yang tidak benar.
Gunakan umur yang tersisa ini untuk melakukan yang bermanfaat, melindungi keluarga dan masyarakat.
Sungguh alangkah indahnya sisa hidup kita ini, adalah hidup yang dipenuhi dengan kasih sayang Allah, umur yang dipenuhi barokah Allah, hari-hari yang akan kita lalui penuh dengan maghfirah dan rahmat Allah SwT.
اَلله ُ اَكْبَرُ اَلله اَكْبَرُ لآ إِلَهَ اِلآّ اَللهُ وَ للهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Akhirnya marilah kita memanjatkan doa kehadirat Allah SwT. Mudah mudahan Allah berkenan mengabulkan doa kita.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ،
Allahuma Ya Allah Yang Maha Kuasa, pada hari ini kami berkumpul di lapangan ini, untuk melaksanakan perintah-Mu.
Kami melakukan ini untuk melampiaskan rasa syukur kami kepadamu, menyatakan rasa bahagia kami atas perjuangan kami selama ini. Terimalah segala amal kami.
Ampunilah segala dosa kami, dosa ibu bapa kami, dosa keluarga kami, dosa kaum muslimin muslimat yang hidup maupun yang telah wafat.
Ya Allah kemarin waktu shaum di bulan ramadhan, kami tinggalkan harta halal tidak kami dimakan, Istri yang syah tidak kami jamah di siang hari.
Semuanya hanyalah mengejar ridha-Mu, mengharap ampunan Mu, membersihkan kotoran jiwa yang mengganggu.
Terimalah pengorbanan kami ya Allah, gantilah dengan ridha Mu, ampunan Mu dan surga Mu.
Ya Allah engkau tahu, negeri kami dihuni oleh sembilan puluh persen umat Islam yang selalu mengagungkan asmamu, menjaga agamamu.
Jangan timpakan kepada kami ujian dan siksaan dari akibat kesalahan dan keserakahan para pemimpin kami.
Ampunilah kami, hindarkanlah kami dari malapetaka perpecahan dan permusuhan, jadikanlah negeri kami, negeri yang aman sentosa berilah penduduknya rizki dari buah-buahan terutama orang yang beriman kepadamu dan hari akhirmu.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Download Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H Format PDF
Dibawah ini adalah tombol download khutbah untuk Idul Fitri 1444 H Tahun 2023 dalam format PDF.
Tentang Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H
Di atas adalah kumpulan Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H, silahkan pilih daftar Template Khutbah diatas sesuai dengan selera anda.
Baca Juga: 100 Quotes Ucapan Selamat Idul Adha 2026 / 1447 H
Dengan Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H diatas dapat menjadi referensi untuk anda yang ingin berkhotbah setelah selesai shalat ied.
Mudah-mudahan dengan informasi mengenai kumpulan Template Khutbah Idul Fitri 2026 / 1447 H di atas bisa menjadi pilihan. Semoga bermanfaat!
