Sejarah Hari Bela Negara 19 Desember: Kekalahan Yang Berujung Kemenangan

Sejarah Hari Bela Negara 19 Desember Kekalahan Yang Berujung Kemenangan

Sejarah 19 Desember, Hari Bela Negara: Kekalahan Yang Berujung Kemenangan

Seperti yang kita tahu bahwa dinamika perjuangan bangsa serta negara Indonesia dalam menentang segala bentuk penjajahan telah meninggalkan seribu satu cerita sejarah.

Berbagai aksi-aksi heroik anak bangsa yang dengan gagah berani serta dengan penuh keteguhan hati rela berkorban tenaga bahkan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.

Atas jasa-jasanya tersebut maka tidak heran terdapat hari-hari penting yang selalu diperingati salah satunya seperti pada tanggal 19 Desember, Hari Bela Negara.

Sejarah Hari Bela Negara 19 Desember

Hari Bela Negara atau HGN tercetus dari sebuah peristiwa bersejarah yaitu sejarah Perjanjian atas sengketa kedaulatan Indonesia, antara Indonesia dengan Belanda yang diselenggarakan di atas Kapal Renville.

Kapal Renville ini tidak lain tidak bukan yaitu armada laut milik Amerika yang berlabuh di Teluk Jakarta pada tanggal 17 Januari 1948 dimana perjanjian tersebut dikenal juga sebagai Perjanjian Renville.

Sebelum adanya Perjanjian Renville, Indonesia serta Belanda telah menandatangani perjanjian Linggarjati yang telah menyepakati wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS).

Namun sayang, kedua negara tersebut menuduh masing-masing melanggar perjanjian yang telah disepakati dua belah pihak.

Akhirnya Belanda yang terus melakukan operasi militer turut memicu perlawanan kepada para pejuang Indonesia, kontak senjata pun tidak terelakkan.

Perjanjian Renville dilakukan atas dasar demi sebuah gencatan senjata. Hanya saja kesepakatan dalam isi perjanjian Renville tersebut justru semakin menyudutkan posisi Indonesia.
Karena hal tersebut, pergolakan politik internal semakin meruncing. Belanda memanfaatkan situasi tersebut dengan terus memperluas wilayahnya, mencederai perjanjian Renville yang sudah dibuat yang sebenarnya merugikan Indonesia.

Bela Negara Melawan Belanda Di Yogyakarta

Keserakahan penjajah mencapai puncaknya yaitu saat terjadi peristiwa Agresi Militer II pada tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta.

Belanda tidak pernah menyatakan perang sebelumnya, sehingga para tentara Indonesia tidak siap dengan serangan-serangan sekutu yang sangat mendadak. Karena hal tersebut Indonesia pun kalah telak.


Serangan tersebut ditujukan untuk menangkap Pimpinan Politik dan Militer Indonesia yaitu Soekarno beserta dengan menterinya.

Serangan tersebut diawali dengan adanya pengeboman Bandara Maguwo Yogyakarta pada pagi hari sekitar pukul 05.15 WIB.

Yogyakarta yang kala itu menjadi Ibu Kota Indonesia dikuasai oleh sekutu dalam waktu yang sangat singkat.

Tepat pada tengah hari Presiden Soekarno dan Moh Hatta ditangkap oleh Belanda. Tak hanya itu saja, Belanda juga menangkap para menteri diantaranya yaitu Agus Salim, Syahrir, A.G. Pringgodigdo dan Mohammad Roem.

Menteri-menteri tersebut langsung dibawa ke tempat pengasingan di Prapat, Sumatera dan Pulau Bangka.

Momentum tersebut akhirnya dimanfaatkan oleh Indonesia untuk mendapatkan dukungan Internasional.

Indonesia kemudian membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Pemerintahan Indonesia yang sah masih tetap ada.

Akhirnya Sjafruddin Prawiranegara yang merupakan seorang menteri Kemakmuran yang berkedudukan di Bukti Tinggi diberi kuasa oleh presiden dan wakilnya untuk memimpin PDRI.

Peristiwa Agresi Militer Belanda II juga memicu sebuah perlawanan gerilya di sekitar Yogyakarta dimana dipimpin langsung oleh Jenderal Sudirman.

Pada saat itu, Belanda sangat kerepotan melawan strategi yang dirancang oleh Indonesia yang sekaligus menunjukkan eksistensi Tentara Nasional Indonesia dibawah kendali PDRI yang menyatakan bahwa Pemerintahan Indonesia sudah tidak ada pasca Agresi Militer II.

Puncak dari pembuktian eksistensi Pemerintahan Indonesia kepada dunia Internasional yaitu ketika adanya peristiwa penguasaan 6 jam kota Yogyakarta atau yang dikenal dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.

Selain adanya perlawanan melalui jalan perang, jalan diplomasi juga harus dijalankan oleh Indonesia melalui para diplomat yaitu Sujatmoko, Sudarpo, Palar dan Sumitro.

Jalan diplomasi yang dijalankan tersebut akhirnya membuahkan hasil dimana Indonesia sukses meyakinkan dunia internasional bahwa Agresi Militer II merupakan wujud dari pelanggaran perjanjian Renville.
Atas hal tersebut akhir Perserikatan Bangsa-Bangsa memaksa Belanda untuk menghentikan operasi militernya dan membebaskan tawanan.

Tak hanya PBB saja, Amerika Serikat juga ikut mengancam Belanda dengan menghentikan bantuan terhadap sekutu.

Akhirnya Belanda menghentikan operasi tersebut dan akhirnya peristiwa ini ditetapkan sebagai Hari Bela Negara.

Latar belakang peristiwa tersebut telah ditetapkan oleh Presiden ke-6 yaitu Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keppres Nomor 28 Tahun 2006 yang menetapkan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara.

Demikian sejarah tentang 19 Desember, Hari Bela Negara.

Mudah-mudahan informasi Sejarah Hari Bela Negara 19 Desember diatas dapat menambah wawasan kita semua. Semoga bermanfaat!

Pencarian yang paling banyak dicari

  • hari bela negara tanggal 19 desember
  • sejarah hari bela negara
  • peringatan hari bela negara tahun 2021
  • tema dan logo hari bela negara 2021
  • hari bela negara ditetapkan oleh presiden
  • hari bela negara keputusan presiden
  • sejarah hari bela negara singkat

aplikasi crypto terbaik
gudang meme enkosa

Ahli dalam menulis artikel sejarah seperti sejarah hari besar dan hari penting baik di Indonesia maupun Dunia. Semoga artikel yang saya terbitkan dapat bermanfaat. Lebih dekat dengan saya bisa cek disini

   
   
Hari Armada Indonesia Hari Penerbangan Sipil Internasional Hari Internasional Sukarelawan Hari Artileri Hari Penyandang Cacat Internasional Hari Bakti PU Hari Konvensi Ikan Paus Hari Penghapusan Perbudakan Hari AIDS Sedunia Hari Solidaritas Rakyat Palestina