Kalender Jawa Lengkap dan Sejarahnya

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

November

Desember

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Agustus

September

Oktober

November

Desember

Artikel Menarik Berhubungan Dengan Adat Jawa:

Sejarah Singkat Kalender Jawa

Sejarah Kalender Jawa - Penggunaan sistem kalender merupakan salah satu bentuk akulturasi. Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, orang Indonesia sudah mengenal Kalender Sakka (penanggalan Hindu) yang dimulai pada 78 Masehi. Dalam penanggalan Saka ditemukan nama pasar 5 hari yaitu: legi, pahing, pon, wage, dan kliwon. 

Artinya jika putaran hari pasar dimulai dari legi, maka ketika tiba kliwon akan kembali dari legi. Setelah Islam berkembang, Sultan Agung Mataram membuat berinisiatif membuat Kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan siklus bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam). 

Dalam penanggalan Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan nama bulan seperti Muharram diganti dengan Syura atau Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa, dan sebagainya. Sedangkan nama-nama zaman masih sesuai dengan bahasa Arab. Bahkan hari pasar di kalender Sakka juga masih digunakan.

Penanggalan Sultan Agung dimulai pada 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya 1 Muharram 1053 Hijriyah yang bertepatan dengan 8 Agustus 1633 M. Sistem kalender ini menggabungkan 3 sistem kalender dari budaya yang berbeda. Yakni gabungan dari sistem penanggalan Islam, sistem penanggalan Hindu, dan sistem penanggalan Julian yang berasal dari budaya barat.

Menggabungkan Kalender Hindu dengan Kalender Islam

Pada tahun 1633 M (1555 Saka) Sultan Agung mencoba menanamkan ajaran Islam di Jawa. Salah satu caranya adalah dengan mengeluarkan ketentuan untuk mengganti penanggalan Saka yang didasarkan pada perputaran Matahari, dengan penanggalan Islam yang didasarkan pada perputaran Bulan.

Meski pada akhirnya menggunakan siklus lunar seperti penanggalan Islam (penanggalan Hijriyah), angka tahun pada penanggalan Saka tetap dilanjutkan. Sehingga pada tahun 1555 Saka saat itu angka tersebut dilanjutkan dan diganti dengan tahun 1555 pada kalender Jawa.

Meskipun pada dasarnya sistem penanggalan Jawa mengikuti sistem penanggalan Hijriah, namun terdapat sedikit perbedaan diantara keduanya. Kalender Jawa memiliki 3 tahun kabisat setiap 1 windu (8 tahun) sedangkan kalender Islam memiliki 11 tahun kabisat setiap 30 tahun.

Lihat juga: Kalender Bali Lengkap dan Sejarahnya

Dampak dari perbedaan sistem ini akan muncul setiap 120 tahun dimana satu hari harus dibuang agar perhitungan penanggalan jawa tetap sama dengan penanggalan hijriah. Siklus sekali dalam 120 tahun ini dikenal sebagai "Siklus Curup".

Meski begitu, Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta tidak disatukan untuk disia-siakan suatu hari nanti. Misalnya Kraton Surakarta telah menyia-nyiakan sehari pada tahun 1675 Jawa / 1748 M padahal perhitungan pada saat itu baru berjalan selama 74 tahun.

Saat itu Pakubuwana V memutuskan hal tersebut karena menurutnya penanggalan Jawa sebenarnya 1 hari di belakang penanggalan Hijriah. Sistem ini hanya diikuti oleh Keraton Yogyakarta atas perintah Sultan Hamengkubuwana VI pada tahun 1749 Jawa / 1866 M.

Daftar Bulan Pada Kalender Jawa

Penamaan nama bulan pada penanggalan Jawa sebagian menyesuaikan dengan nama bulan pada penanggalan Hijriah. Namun ada juga nama yang diambil dari bahasa Sansekerta seperti bulan Sura, Pasa, dan Sela, serta nama yang diambil dari bahasa Jawa dan Melayu seperti Bulan Apit dan Besar.

Namun, pada tahun 1856 M, bulan-bulan musim itu dibuat berdasarkan Kalender Masehi. Sistem ini dikenal dengan istilah "pranata prey" yang diresmikan oleh Sultan Pakubuwana VII. Sistem penanggalan ini dibuat karena penanggalan Hijriah dirasa kurang memadai sebagai patokan petani dalam bercocok tanam.

Weton Jawa

Weton Jawa juga digunakan untuk menentukan acara sakral yang akan dilakukan seseorang seperti lamaran, hari pernikahan, khitanan, dan lain sebagainya. Misalnya, seseorang yang lahir pada hari Pasar Pahing akan tega mengkhianati teman-temannya sendiri. Sedangkan orang yang lahir di hari Pasaran Pon adalah orang yang arif dan suka menasihati. 

Nah itulah sedikit ulasan mengenai Sejarah Kalender Jawa yang jarang orang mengetahuinya, meskipun penjelasan di atas sangat singkat diharapkan kita dapat mengerti dan dapat melestarikannya. Pada dasarnya perubahan Kalender Saka menjadi Kalender Jawa, alih-alih untuk mengenalkan agama islam ke Tanah Jawa oleh Sultan Agung dari kerajaan Mataram.

Mudah-mudahan Informasi Sejarah Singkat Kalender Jawa di atas dapat menjadi referensi untuk kita semua. Sekaligus dapat menambah wawasan terhadap perkembangan kalender di Indonesia terutama Kalender Jawa. Semoga Bermanfaat!!

Pencarian yang paling banyak dicari

  • sejarah kalender jawa islam
  • sejarah kalender jawa kuno
  • sejarah terciptanya kalender jawa
  • asal mula tanggalan jawa
  • sejarah penanggalan jawa