Puasa Syawal: Puasa Setelah Lebaran, Kapan waktunya?

Alhamdulillah kita bisa melewati bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1441 H yang mana dengan ini mudah-mudahan kita kembali fitri dan menjadi manusia lebih baik. Berbicara mengenai Idul Fitri yang jatuh pada hari Minggu 24 Mei 2020, tentunya setelah merayakan hari kemenangan tersebut kita melakukan puasa setelah lebaran.

Puasa Syawal: Puasa Setelah Lebaran, Kapan waktunya?

Puasa Setelah Lebaran

Puasa setelah Lebaran adalah puasa yang disunnahkan, puasa ini juga disebut sebagai puasa Syawal. Biasanya beberapa hari setelah Idul Fitri baru kita boleh berpuasa lagi untuk tujuan lain. Kita tidak boleh melakukan puasa setelah Lebaran di hari kedua, sebab hari kedua Lebaran masih merupakan hari kemenangan yang harus kita rayakan dengan memakan makanan yang dihidangkan. 

Pertanyaan yang sering muncul adalah Apakah boleh puasa setelah hari raya idul fitri? Jawabannya adalah boleh, maksud dari kalimat "setelah hari raya idul Fitri" adalah hari dimana kita telah merayakan hari kemenangan dan telah melewatinya minimal 2 hari. Itu artinya dihari ketiga kamu boleh melakukan puasa Syawal. 

Puasa Syawal Adalah? 

Puasa syawal adalah puasa yang dikerjakan sesudah hari raya Idul Fitri sebanyak 6 hari. Puasa pada hari itu hukumnya sunat berdasarkan hadits.

Dibawah ini adalah Hadits-hadits yang membahas mengenai kelebihan berpuasalah setelah Lebaran atau Puasa Syawal. 

Puasa pada hari setelah lebaran hukumnya sunat berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshari r.a, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang masa.”

Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullah saw. bersabda:

أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ …

“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …”

Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Rasulullah saw. juga bersabda dalam hadits Qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.”

Kapan Puasa Syawal Dimulai? 

Puasa Syawal paling Afdal dilakukan dihari ke-3 selama 6 hari, baik secara berturut-turut maupun terpisah yang penting adalah masih dalam bulan Syawal. 

Keutamaan Puasa syawal berturut-turut selama 6 hari

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhal (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” 

Bolehkah Puasa setelah habis bulan Syawal? 

Berpuasa setelah Lebaran boleh-beleh saja dilakukan setelah hari kedua Idul Fitri selama 3 hari ataub6 hari berturut-turut. Namun apabila puasa Syawal di lakukan setelah bulan Syawal selesai karena bermalas-malasan atau hal lain, maka Puasanya tidak akan mendapatkan ganjaran puasa bulan Syawal. 

Puasa Syawal bagi yang berhalangan atau Udzur? 

Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qadha’ (mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqa’dah. Hal ini tidaklah mengapa.

Tata Cara Puasa Syawal? 

1. Puasa sunnah Syawal dilakukan selama enam hari

Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa puasa Syawal itu dilakukan selama enam hari. Lafazh hadits di atas adalah: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).
Dari hadits tersebut, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Yang disunnahkan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawal.” (Syarhul Mumti’, 6: 464).

2. Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Para fuqoha berkata bahwa yang lebih utama, enam hari di atas dilakukan setelah Idul Fithri (1 Syawal) secara langsung. Ini menunjukkan bersegera dalam melakukan kebaikan.” (Syarhul Mumti’, 6: 465).

3. Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berurutan karena itulah yang umumnya lebih mudah. Itu pun tanda berlomba-lomba dalam hal yang diperintahkan.” (Idem)

4. Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa Syawal yaitu puasa setahun penuh

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadhan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’nya sempurna, maka itu lebih baik. Inilah yang dimaksud dalam hadits yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadhan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal. Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392).

5. Boleh melakukan puasa Syawal pada hari Jum’at dan hari Sabtu

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 309).

Pahala Puasa Syawal

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ  مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَ

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].”,
Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal.

Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh.

Niat Puasa Syawal

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan, niat adalah pekerjaan hati dan tidak ada sangkut pautnya dengan lisan. Seseorang yang makan sahur dengan maksud akan berpuasa syawal, berarti ia telah niat puasa syawal. Bahkan jika ia tidak makan sahur lalu paginya bermaksud berpuasa syawal, itu juga termasuk niat yang sah.

Sedangkan Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan, jumhur ulama mensunnahkan melafadzkan niat dalam rangka membantu hati menghadirkan niat. Namun menurut mazhab Maliki, yang lebih utama adalah tidak melafadzkan niat karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bagi yang berpendapat melafadzkan niat, berikut ini lafadz niat puasa syawal beserta tulisan latin dan artinya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

(Nawaitu shouma ghodin ‘an sittatin min syawwaalinn sunnatan lillaahi ta’aalaa)
Artinya: Aku berniat puasa besok dari enam hari Syawal, sunnah karena Allah Ta’ala

Tata Cara Puasa Syawal

1. Niat Puasa Syawal
Niat puasa syawal boleh dilakukan di malam hari, boleh di waktu makan sahur hingga terbit fajar. Bahkan boleh dilakukan ketika pagi jika terlupa atau kesiangan, karena ini merupakan puasa sunnah.

Hal ini berbeda dengan puasa Ramadhan yang niatnya harus di malam hari. Terakhir di waktu fajar. Tidak sah puasa Ramadhan jika niatnya setelah terbit fajar.

2. Makan sahur
Makan sahur ini hukumnya sunnah. Ia disunnahkan dikerjakan sebelum terbit fajar dan disunnahkan diakhirkan. Namun tidak makan sahur pun tidak apa-apa, dalam artian puasa tetap sah. Misalnya jika terlambat bangun.

3. Menahan diri dari hal yang membatalkan
Yakni menahan dari makan, minum, berhubungan dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.

Meskipun sudah niat puasa syawal, namun kemudian makan atau minum dengan sengaja di siang hari, otomatis puasanya batal.

Yang juga penting dilakukan, selama menjalankan puasa, hindari hal-hal yang bisa membatalkan pahala puasa. Misalnya berkata dusta, ghibah dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

4. Buka puasa
Disunnahkan menyegerakan berbuka puasa ketika matahari terbenam, yakni bersamaan dengan masuknya waktu Maghrib.

Rangkuman Puasa Syawal - Pertanyaan yang biasa muncul

1. Apakah puasa Syawal bisa digabung dengan puasa ramadhan?

Pada dasarnya yang harus di utamakan adalah meng qodho puasa ramadhan, setelah puasa ramadhan sudah di qodho semuanya baru bisa menjalankan puasa syawal.

2. Bolehkah puasa syawal tidak berurutan?

Dibolehkan berpuasa syawal tidak berurutan asal masih di bulan syawal.

3. Bagaimana niat Puasa Syawal?

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

(Nawaitu shouma ghodin ‘an sittatin min syawwaalinn sunnatan lillaahi ta’aalaa)
Artinya: Aku berniat puasa besok dari enam hari Syawal, sunnah karena Allah Ta’ala

4. Kapan puasa syawal di mulai atau puasa syawal mulai hari keberapa?

Puasa syawal bisa dimulai pada tanggal 2 atau 3 di bulan syawal. 

Posting Komentar untuk "Puasa Syawal: Puasa Setelah Lebaran, Kapan waktunya? "